Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

MANGGAGAS REBO NYUNDA DI TASIKMALAYA

MENGGAGAS REBO NYUNDA DI TASIKMALAYA

oleh: Ade Risna Suhendi

(Opini Kabar Priangan 25 Maret 2015)

Selasa pagi tanggal 17 Maret di jalanan Singaparna penuh oleh orang-orang yang berjalan dengan memakai pakain serba hitam (pangsi) dan kebaya. Mereka berjalan berkeliling daerah Singaparna dan sekitarnya. Masyarakat pun jadi bertanya siapakah mereka?dalam rangka apa mereka memakai pakaian adat Sunda? Dan ternyata mereka adalah siswa dan siswi SMA Negeri 1 Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Mereka berkeliling dan memakai pakaian adat Sunda dalam rangka sebuah acara yaitu Sapoe di Tatar Sunda. Sebuah acara yang dilaksanakan di bawah bimbingan guru Seni Budaya Agus Ahmad Wakih, M.Sn dan Kepala Sekolah Drs. Anda Sujana , M.Pd. Acara ini selain sebagai aplikasi pembelajaran Seni Budaya juga sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap budaya Sunda. Bentuk kegiatan yang berlangsung antara lain musik dan lagu Sunda, pameran makanan khas Sunda, permaina tradisional, saung, sawah, dan rumah asli suku Sunda. Saya pun jadi berpikir acara ini bisa jadi sebuah momentum bagi Tasikmalaya. Momentum apa? Ya Rebo Nyunda. Jika di Garut, Bandung, Purwakarta, dan daerah lainnya di Jawa Barat ada Rebo Nyunda kenapa di Tasikmalaya tidak ada? Acara seperti ini bisa dijadikan momentum bagi Tasikmalaya khususnya untuk melkasanakan Rebo Nyunda. Sebenarnya apa itu Rebo Nyunda?

Istilah Rebo Nyunda terdiri dari dua kata yaitu Rebo dan Nyunda. Rebo merujuk pada nama hari yaitu Rabu, sedangkan Nyunda berasal dari kata Sunda yang diberi imbukan N- (ny). Istilah Sunda sendiri merujuk pada salasatu suku bangsa yang ada di Indonesia tepatnya di Jawa Barat dan Banten. Kata Sunda yang diberi imbuhan N (ny) berarti berbagai aspek kehidupan yang bercirikan budaya Sunda. Jadi jika diartikan secara etimologis Rebo Nyunda berati hari rabu yang menerapkan ciri budaya Sunda dalam berbagai aspek kehidupan. dalam prakteknya kegiatan rebo nyunda ini dicirikan dengan memakai pakaian adat Sunda dan berbahasa Sunda dalam percakapan. Tujuan dari kegiatan ini tentu saja sebagai bentuk upaya pelestarian budaya Sunda yang dinilai sudah mulai terkikis. Salasatu indikatornya adalah mulai ditinggalkannya bahasa Sunda sebagai bahasa dalam percakapan sehari-hari.

Eksistensi Bahasa Sunda

Indikator yang paling nyata dari budaya adalah bahasa. Bahasa Sunda sebagai bagian dari budaya Sunda saat ini sudah mulai tersisihkan eksistensinya. Sering saya dengar seorang ibu berbicara dengan anaknya dengan bahasa nasional, para wanoja Sunda di sekolah dan kampus bercakap-cakap tidak menggunakan bahasa Sunda, para pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat menggunakan bahasa nasional. Apakah semua itu salah? Tidak sepenuhnya bisa dikatakan salah. Karena memang kita mempunyai bahasa nasional bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah jika bahasa Sunda tidak lagi digunakan akan seperti apa nasibnya? Tentu mudah ditebak lama kelamaan bahasa Sunda akan menghilang, tinggal menjadi sejarah, hanya ada dalam naskah-naskah yang dianggap kuno, hanya ada dalam obrolan bahwa dulu bahasa Sunda pernah ada. Guna mengantisipasi hal tersebut tentu langkah yang paling mudah adalah dengan menggunakan bahasa Sunda. Penggunaannya tentu saja harus memperhatikan situasi yang ada. Dalam situasi yang mengharuskan memakai bahasa Indonesia tentu jangan memaksakan mengunakan bahasa Sunda, tetapi dalam situasi tertentu bahasa Sunda harus digunakan guna menjaga kelestarian dan eksistensinya.

Bahasa Sunda dan bahasa daerah lainnya disebut sebagai bahasa ibu yaitu bahasa yang digunakan oleh ibu (keluarga) dalam percakapan di lingkungan keluarga. Artinysa di linglkungan keluarga bahasa Sundaseharusmnya digunakan sebgai bahasa percakapan antar anggota keluarga. Ibu berbicara dengan anaknya, suami berbicara dengan istrinya, anak berbicara dengan ayahnya seharusnya menggunakan bahasa ibu. Hal ini juga sudah diakui oleh UNESCO dengan menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai bahasa Ibu Internasional. Permqaslahannya adalah kebanyakan masyarakat tidak mengetahui hal ini, tidak mengetahui akan adanya hari bahasa Ibu Internasional.

Pudarnya eksistensi bahasa Sunda disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang paling utama adalah faktor keluarga. Jika dalam keluarga anak sudah dibiasakan menggunakan bahasa Sunda maka dalam percakapan di lingkungan yang lain juga, anak akan menggunakan bahasa Sunda. Ibu tidak lagi mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya. Seorang ibu lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan dengan anaknya. Kenapa hal ini terjadi? Padahal dia berbicara dengan suami dan teman-temannya seringnya menggunakan bahasa Sunda. Jika kita cermati ada dua penyebab utama. Pertama adalah adanya anggapan bahasa Sunda itu sulit karena adanya variasi bahasa (tata karma basa). Dalam tata karma basa Sunda jika kita berbicara dengan teman sebaya akan berbeda dengan berbicara dengan orang tua. Sitausi percakapan juga mempengaruhi variasi bahasa yang digunakan. Oleh karena masalah ini seorang ibu lebih memilih bahasa Indonesia yang dinilai lebih praktis. Ada juga ketakutan bahwa anak akan menggunakan bahasa yang kasar dikarenakan kesulitan membedakan variasi bahasa ini. Ketakutan yang lain adalah anak akan kesulitan menggunakan bahasa Indonesia ketika memasuki usia sekolah jika tidak dibiasakan sejak dini. Kedua adanya gengsi menggunakan bahasa Sunda. Ibu merasa memiliki image sebagai ibu dan keluarga yang modern jika menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan anaknya. Kuno, jadul, dan terbelakang adalah sebuah kata yang sangat ditakuti dan sangat dihindari. Untuk menghindarinya dengan tidak menggunakan bahasa Sunda. Apakah hal itu betul?

Guna mengantisipasi hal-hal di atas tentu harus ada langkah konkrit yang diambil. Pemerintah dalam hal ini bisa berperan besar. Peranannya sebagai percontohan bagi masyarakat guna memberikan kesadaran akan pentyingnya menjaga kelestarian bahasa dan lebih luasnya budaya Sunda. Langkah yang paling mudah yang bisa dilakukan adalah Rebo Nyunda.

Rebo Nyunda di Tasikmalaya

Seorang teman suatu saat memajang foto selfienya dengan memakai pakaian adat Sunda di media sosial. Dia berprofesi sebagai guru di Kota Bandung. Dalam statusnya dia menulis Rebo nyunda di sakola. Seorang teman yang lain di Garut bercerita bahwa di Garut setiap hari rabu seluruh pegawai intansi pemerintahan diwajibkan memakai pakaian adat Sunda. Dia bertanya apakah di Kabupaten Tasikmalaya ada istilah Rebo Nyunda? Saya jawab entah tidak ada atau belum ada.

Di beberapa daerah di Jawa Barat sekarang memang sedang muncul kesadaran kolektif berupa pentingnya menjaga kelestarian buadaya Sunda. Kesadaran ini diwujudkan dengan mamakai pakaian adat Sunda dan berbahasa Sunda di hari tertentu. Seluruh pegawai intansi pemerintahan dan sekolah-sekolah diwajibkan melaksanaknnya. Hari yang ditentukan juga seragam yaitu hari rabu. Maka muncullah istilah Rebo Nyunda. Kegiatan Rebo Nyunda ini sangat bermanpaat guna menjaga kelestarian budaya Sunda karena seperti disebutkan di atas bahwa pakaian dan bahasa adalah indikator yang paling terasa dan terlihat dari budaya. Dengan memakai pakaian adat dan berbahasa sunda akan sangat mudah ditebak bahwa orang itu adalah orang Sunda. Kebiasaan memakai pakaian adat dan berbahasa Sunda lama kelamaan akan membuat nilai-nilai budaya Sunda kembali muncul dan menjadi identitas orang Sunda, dan tentu saja buadaya Sunda tetap lestari keberadaannya.

Kabupaten Tasikmalaya sebagai bagian dari tatar Sunda dan ditinggali urang Sunda tentu saja harus melaksanakan Rebo nyunda. Kapan? Entahlah. Sebaiknya secepatnya. Siapa? Bapak Bupati yang bisa mengeluarkan kebijakannya. Rebo Nyunda di Tasikmalaya, pasti bisa!

10 April 2015 - Posted by | Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: