Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

MANGGAGAS REBO NYUNDA DI TASIKMALAYA

MENGGAGAS REBO NYUNDA DI TASIKMALAYA

oleh: Ade Risna Suhendi

(Opini Kabar Priangan 25 Maret 2015)

Selasa pagi tanggal 17 Maret di jalanan Singaparna penuh oleh orang-orang yang berjalan dengan memakai pakain serba hitam (pangsi) dan kebaya. Mereka berjalan berkeliling daerah Singaparna dan sekitarnya. Masyarakat pun jadi bertanya siapakah mereka?dalam rangka apa mereka memakai pakaian adat Sunda? Dan ternyata mereka adalah siswa dan siswi SMA Negeri 1 Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Mereka berkeliling dan memakai pakaian adat Sunda dalam rangka sebuah acara yaitu Sapoe di Tatar Sunda. Sebuah acara yang dilaksanakan di bawah bimbingan guru Seni Budaya Agus Ahmad Wakih, M.Sn dan Kepala Sekolah Drs. Anda Sujana , M.Pd. Acara ini selain sebagai aplikasi pembelajaran Seni Budaya juga sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap budaya Sunda. Bentuk kegiatan yang berlangsung antara lain musik dan lagu Sunda, pameran makanan khas Sunda, permaina tradisional, saung, sawah, dan rumah asli suku Sunda. Saya pun jadi berpikir acara ini bisa jadi sebuah momentum bagi Tasikmalaya. Momentum apa? Ya Rebo Nyunda. Jika di Garut, Bandung, Purwakarta, dan daerah lainnya di Jawa Barat ada Rebo Nyunda kenapa di Tasikmalaya tidak ada? Acara seperti ini bisa dijadikan momentum bagi Tasikmalaya khususnya untuk melkasanakan Rebo Nyunda. Sebenarnya apa itu Rebo Nyunda?

Istilah Rebo Nyunda terdiri dari dua kata yaitu Rebo dan Nyunda. Rebo merujuk pada nama hari yaitu Rabu, sedangkan Nyunda berasal dari kata Sunda yang diberi imbukan N- (ny). Istilah Sunda sendiri merujuk pada salasatu suku bangsa yang ada di Indonesia tepatnya di Jawa Barat dan Banten. Kata Sunda yang diberi imbuhan N (ny) berarti berbagai aspek kehidupan yang bercirikan budaya Sunda. Jadi jika diartikan secara etimologis Rebo Nyunda berati hari rabu yang menerapkan ciri budaya Sunda dalam berbagai aspek kehidupan. dalam prakteknya kegiatan rebo nyunda ini dicirikan dengan memakai pakaian adat Sunda dan berbahasa Sunda dalam percakapan. Tujuan dari kegiatan ini tentu saja sebagai bentuk upaya pelestarian budaya Sunda yang dinilai sudah mulai terkikis. Salasatu indikatornya adalah mulai ditinggalkannya bahasa Sunda sebagai bahasa dalam percakapan sehari-hari.

Eksistensi Bahasa Sunda

Indikator yang paling nyata dari budaya adalah bahasa. Bahasa Sunda sebagai bagian dari budaya Sunda saat ini sudah mulai tersisihkan eksistensinya. Sering saya dengar seorang ibu berbicara dengan anaknya dengan bahasa nasional, para wanoja Sunda di sekolah dan kampus bercakap-cakap tidak menggunakan bahasa Sunda, para pegawai pemerintahan dalam melayani masyarakat menggunakan bahasa nasional. Apakah semua itu salah? Tidak sepenuhnya bisa dikatakan salah. Karena memang kita mempunyai bahasa nasional bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah jika bahasa Sunda tidak lagi digunakan akan seperti apa nasibnya? Tentu mudah ditebak lama kelamaan bahasa Sunda akan menghilang, tinggal menjadi sejarah, hanya ada dalam naskah-naskah yang dianggap kuno, hanya ada dalam obrolan bahwa dulu bahasa Sunda pernah ada. Guna mengantisipasi hal tersebut tentu langkah yang paling mudah adalah dengan menggunakan bahasa Sunda. Penggunaannya tentu saja harus memperhatikan situasi yang ada. Dalam situasi yang mengharuskan memakai bahasa Indonesia tentu jangan memaksakan mengunakan bahasa Sunda, tetapi dalam situasi tertentu bahasa Sunda harus digunakan guna menjaga kelestarian dan eksistensinya.

Bahasa Sunda dan bahasa daerah lainnya disebut sebagai bahasa ibu yaitu bahasa yang digunakan oleh ibu (keluarga) dalam percakapan di lingkungan keluarga. Artinysa di linglkungan keluarga bahasa Sundaseharusmnya digunakan sebgai bahasa percakapan antar anggota keluarga. Ibu berbicara dengan anaknya, suami berbicara dengan istrinya, anak berbicara dengan ayahnya seharusnya menggunakan bahasa ibu. Hal ini juga sudah diakui oleh UNESCO dengan menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai bahasa Ibu Internasional. Permqaslahannya adalah kebanyakan masyarakat tidak mengetahui hal ini, tidak mengetahui akan adanya hari bahasa Ibu Internasional.

Pudarnya eksistensi bahasa Sunda disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang paling utama adalah faktor keluarga. Jika dalam keluarga anak sudah dibiasakan menggunakan bahasa Sunda maka dalam percakapan di lingkungan yang lain juga, anak akan menggunakan bahasa Sunda. Ibu tidak lagi mengajarkan bahasa Sunda kepada anaknya. Seorang ibu lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan dengan anaknya. Kenapa hal ini terjadi? Padahal dia berbicara dengan suami dan teman-temannya seringnya menggunakan bahasa Sunda. Jika kita cermati ada dua penyebab utama. Pertama adalah adanya anggapan bahasa Sunda itu sulit karena adanya variasi bahasa (tata karma basa). Dalam tata karma basa Sunda jika kita berbicara dengan teman sebaya akan berbeda dengan berbicara dengan orang tua. Sitausi percakapan juga mempengaruhi variasi bahasa yang digunakan. Oleh karena masalah ini seorang ibu lebih memilih bahasa Indonesia yang dinilai lebih praktis. Ada juga ketakutan bahwa anak akan menggunakan bahasa yang kasar dikarenakan kesulitan membedakan variasi bahasa ini. Ketakutan yang lain adalah anak akan kesulitan menggunakan bahasa Indonesia ketika memasuki usia sekolah jika tidak dibiasakan sejak dini. Kedua adanya gengsi menggunakan bahasa Sunda. Ibu merasa memiliki image sebagai ibu dan keluarga yang modern jika menggunakan bahasa Indonesia dalam percakapan dengan anaknya. Kuno, jadul, dan terbelakang adalah sebuah kata yang sangat ditakuti dan sangat dihindari. Untuk menghindarinya dengan tidak menggunakan bahasa Sunda. Apakah hal itu betul?

Guna mengantisipasi hal-hal di atas tentu harus ada langkah konkrit yang diambil. Pemerintah dalam hal ini bisa berperan besar. Peranannya sebagai percontohan bagi masyarakat guna memberikan kesadaran akan pentyingnya menjaga kelestarian bahasa dan lebih luasnya budaya Sunda. Langkah yang paling mudah yang bisa dilakukan adalah Rebo Nyunda.

Rebo Nyunda di Tasikmalaya

Seorang teman suatu saat memajang foto selfienya dengan memakai pakaian adat Sunda di media sosial. Dia berprofesi sebagai guru di Kota Bandung. Dalam statusnya dia menulis Rebo nyunda di sakola. Seorang teman yang lain di Garut bercerita bahwa di Garut setiap hari rabu seluruh pegawai intansi pemerintahan diwajibkan memakai pakaian adat Sunda. Dia bertanya apakah di Kabupaten Tasikmalaya ada istilah Rebo Nyunda? Saya jawab entah tidak ada atau belum ada.

Di beberapa daerah di Jawa Barat sekarang memang sedang muncul kesadaran kolektif berupa pentingnya menjaga kelestarian buadaya Sunda. Kesadaran ini diwujudkan dengan mamakai pakaian adat Sunda dan berbahasa Sunda di hari tertentu. Seluruh pegawai intansi pemerintahan dan sekolah-sekolah diwajibkan melaksanaknnya. Hari yang ditentukan juga seragam yaitu hari rabu. Maka muncullah istilah Rebo Nyunda. Kegiatan Rebo Nyunda ini sangat bermanpaat guna menjaga kelestarian budaya Sunda karena seperti disebutkan di atas bahwa pakaian dan bahasa adalah indikator yang paling terasa dan terlihat dari budaya. Dengan memakai pakaian adat dan berbahasa sunda akan sangat mudah ditebak bahwa orang itu adalah orang Sunda. Kebiasaan memakai pakaian adat dan berbahasa Sunda lama kelamaan akan membuat nilai-nilai budaya Sunda kembali muncul dan menjadi identitas orang Sunda, dan tentu saja buadaya Sunda tetap lestari keberadaannya.

Kabupaten Tasikmalaya sebagai bagian dari tatar Sunda dan ditinggali urang Sunda tentu saja harus melaksanakan Rebo nyunda. Kapan? Entahlah. Sebaiknya secepatnya. Siapa? Bapak Bupati yang bisa mengeluarkan kebijakannya. Rebo Nyunda di Tasikmalaya, pasti bisa!

10 April 2015 Posted by | Uncategorized | | Meninggalkan komentar

Diajar Basa Sunda

Hiji waktu kuring ngalaksanakeun pangajaran basa Sunda di kelas ku cara saperti ieu di handap. Pék téh hasilna nyugemakeun. Carana saperti kieu:

Nyusun carita tina hiji kecap

Skenario:

  1. Kecap konci (keyword) ditangtukeun (kalimah Tanya)
  2. Tina éta kecap kudu jadi hiji carita
  3. Caritana bébas teu kawatesanan ku jejer/téma
  4. Waktuna 20 menit
  5. Sabada réngsé, hasilna dibacakeun

Tujuan:

  1. Latihan ngagunakeun basa Sunda
  2. Ngasah imajinasi
  3. Ngalatih kawani

Conto:

SAHA NU GELO

(tina Dongéng Kang Ibing)

Hiji waktu aya dokter jiwa nu kadatangan pasien. Éta pasien nyarita

“Pa, abdi téh gaduh réréncangan tapi éta réréncangan téh rada anéh.” Manéhna mimiti nyarita.

Éta dokter panasaran tuluy nanya

“anéh kumaha kitu?” ceuk éta dokter.

“Manéhna sok ngarasa dirina jadi pulpén” éta jalma ngajawab.

“Hadéna mah bawa atuh babaturan téh ka dieu”

“Dicandak da ieu gé” ceuk éta jalma bari ngaluarkeun pulpén tina saku bajuna.

Kuring Saha?

Peuting tadi aya nu anéh. Jam 9 saperti biasa geus ngagolér, reup panon dipeureumkeun. Ti dinya mah teu inget nanaon wé, awahing ku tibra. Tapi kuring ujug-ujug hudang tengah peuting, mimitina mah teu ngarasa nanaon. Pas kuring turun tina dipan, mimiti karasa anéh awak asa hampang kacida, mata jadi leuwih béngras, tanaga asa jadi bedas kacida.. Kunaon kuring?

Kuring nyobaan ngangkat awak, ari pék téh awak kuring ngajungjung. Lalaunan beuki lila beuki lhur, antukna kuring aya di luhureun lomari. Kunaon kuring téh? kuring turun deui. Neuteup kana kaca eunteung da asa euweuh nu robah. Awak angger, pakéan gé sarua kawas nu tadi dipaké méméh saré. Daripada lieur mikiranana, antukna kuring saré deui. Hudang jam 5, langsung ka cai rék mandi. Pas muka baju, kuring kagét kacida. Aya baju deui di jero baju nu dipaké warnana biru, dina dada kuring aya aksara S.

SAHA?

Ti kajauhan katempo aya nu ngagolér dina dipan. Teu pati sidik saha-sahana mah da ngagolérna nonggongan. Ku kuirng dideukeutan, panasaran saha éta jalma téh jeung keur naon. Tapi saméméh anjog ka nu dituju, aya nu ngegeroan

“Pa, diantos di lantai 2!”

Nu ngageroan téh hiji awéwé nu make batik ka handapna make calana kaén ka luhurna maké tudung. Nyaritana bari imut:

“mangga Pa, abdi ti payun”

Léos manéhna indit, kuring nuturkeun da teu apal kudu kamana ka lantai 2 téh, jeung deuih rék naon. Ari kuirng saha? Pas nepi kanu dituju kasampak di hiji rohangan loba jalma lalaki awéwé, barudak ngora. Maranéhna diuk dina korsi bari marawa kantong, buku, pulpén, jeung laptop. Guru, kuring téh guru jigana mah. Maranéhna murid atawa bisa jadi mahasiswa da pakéanna teu make seragam.

Bingung rék ngomong naon, rék ngalakukeun naon. Antukna ngahuleng diuk dina korsi di hareupeun maranéhna. Keur kitu aya nu keketrok kana panto.

“Pa, disaur ku Pa Diréktur”

Awéwé nu tadi datang deui. Kuring nuturkeun deui manéhna. Anjog ka hiji rohangan kasampak aya hji lalaki nu keur diuk dina korsi. Ujug-ujug aya rasa keuheul nu kacida gedéna ka éta lalaki téh. keuheul kunaon duka kunaon, teu apal kuring gé.

“mangga calik Pa,!”

Teu pati didéngé manéhna nyarita gé, ngan nu jelas mah manéhna téh nitah kuring mikeun surat DO (drop out) ka hiji mahasiswa nu geus 8 taun kuliahna teu lulus waé.

“éta mahasiwa nuju di ruang P3K, tadi ujug-ujug pingsan nuju di jalan”

oh mahasiswa éta téh nu tadi katempo keur ngagolér kawasna mah. Kuring turun ka lantai 1 muru ka hiji rohangan. Bener pisan, nu dimaksud téh nu tadi keur ngagolér. Ku kuring dideukuetan. Lalaunan pundukna diragap, digeuyahkeun. Manéhna ngalieuk lalaunan. Nalika beungeutna adu teuteup jeung kuring, asa aya gelap di tengah poé éréng-éréngan, asa kaget anu kacida. Geuning manéhna téh kuring. Nu keur ngagolér téh kuring.

5 Februari 2015 Posted by | Uncategorized | Meninggalkan komentar

Diajar Basa Sunda

Hiji waktu kuring ngalaksanakeun pangajaran basa Sunda di kelas ku cara saperti ieu di handap. Pék téh hasilna nyugemakeun. Carana saperti kieu:

Nyusun carita tina hiji kecap

Skenario:

  1. Kecap konci (keyword) ditangtukeun (kalimah Tanya)
  2. Tina éta kecap kudu jadi hiji carita
  3. Caritana bébas teu kawatesanan ku jejer/téma
  4. Waktuna 20 menit
  5. Sabada réngsé, hasilna dibacakeun

Tujuan:

  1. Latihan ngagunakeun basa Sunda
  2. Ngasah imajinasi
  3. Ngalatih kawani

Evaluasi:

  1. Basa Sunda nu digunakeun
  2. Kualitas carita nu dihasilkeun

conto:

SAHA NU GELO

(tina Dongéng Kang Ibing)

Hiji waktu aya dokter jiwa nu kadatangan pasien. Éta pasien nyarita

“Pa, abdi téh gaduh réréncangan tapi éta réréncangan téh rada anéh.” Manéhna mimiti nyarita.

Éta dokter panasaran tuluy nanya

“anéh kumaha kitu?” ceuk éta dokter.

“Manéhna sok ngarasa dirina jadi pulpén” éta jalma ngajawab.

“Hadéna mah bawa atuh babaturan téh ka dieu”

“Dicandak da ieu gé” ceuk éta jalma bari ngaluarkeun pulpén tina saku bajuna.

Kuring Saha?

Peuting tadi aya nu anéh. Jam 9 saperti biasa geus ngagolér, reup panon dipeureumkeun. Ti dinya mah teu inget nanaon wé, awahing ku tibra. Tapi kuring ujug-ujug hudang tengah peuting, mimitina mah teu ngarasa nanaon. Pas kuring turun tina dipan, mimiti karasa anéh awak asa hampang kacida, mata jadi leuwih béngras, tanaga asa jadi bedas kacida.. Kunaon kuring?

Kuring nyobaan ngangkat awak, ari pék téh awak kuring ngajungjung. Lalaunan beuki lila beuki lhur, antukna kuring aya di luhureun lomari. Kunaon kuring téh? kuring turun deui. Neuteup kana kaca eunteung da asa euweuh nu robah. Awak angger, pakéan gé sarua kawas nu tadi dipaké méméh saré. Daripada lieur mikiranana, antukna kuring saré deui. Hudang jam 5, langsung ka cai rék mandi. Pas muka baju, kuring kagét kacida. Aya baju deui di jero baju nu dipaké warnana biru, dina dada kuring aya aksara S.

SAHA?

Ti kajauhan katempo aya nu ngagolér dina dipan. Teu pati sidik saha-sahana mah da ngagolérna nonggongan. Ku kuirng dideukeutan, panasaran saha éta jalma téh jeung keur naon. Tapi saméméh anjog ka nu dituju, aya nu ngegeroan

“Pa, diantos di lantai 2!”

Nu ngageroan téh hiji awéwé nu make batik ka handapna make calana kaén ka luhurna maké tudung. Nyaritana bari imut:

“mangga Pa, abdi ti payun”

Léos manéhna indit, kuring nuturkeun da teu apal kudu kamana ka lantai 2 téh, jeung deuih rék naon. Ari kuirng saha? Pas nepi kanu dituju kasampak di hiji rohangan loba jalma lalaki awéwé, barudak ngora. Maranéhna diuk dina korsi bari marawa kantong, buku, pulpén, jeung laptop. Guru, kuring téh guru jigana mah. Maranéhna murid atawa bisa jadi mahasiswa da pakéanna teu make seragam.

Bingung rék ngomong naon, rék ngalakukeun naon. Antukna ngahuleng diuk dina korsi di hareupeun maranéhna. Keur kitu aya nu keketrok kana panto.

“Pa, disaur ku Pa Diréktur”

Awéwé nu tadi datang deui. Kuring nuturkeun deui manéhna. Anjog ka hiji rohangan kasampak aya hji lalaki nu keur diuk dina korsi. Ujug-ujug aya rasa keuheul nu kacida gedéna ka éta lalaki téh. keuheul kunaon duka kunaon, teu apal kuring gé.

“mangga calik Pa,!”

Teu pati didéngé manéhna nyarita gé, ngan nu jelas mah manéhna téh nitah kuring mikeun surat DO (drop out) ka hiji mahasiswa nu geus 8 taun kuliahna teu lulus waé.

“éta mahasiwa nuju di ruang P3K, tadi ujug-ujug pingsan nuju di jalan”

oh mahasiswa éta téh nu tadi katempo keur ngagolér kawasna mah. Kuring turun ka lantai 1 muru ka hiji rohangan. Bener pisan, nu dimaksud téh nu tadi keur ngagolér. Ku kuring dideukuetan. Lalaunan pundukna diragap, digeuyahkeun. Manéhna ngalieuk lalaunan. Nalika beungeutna adu teuteup jeung kuring, asa aya gelap di tengah poé éréng-éréngan, asa kaget anu kacida. Geuning manéhna téh kuring. Nu keur ngagolér téh kuring.

5 Februari 2015 Posted by | Basa Sunda | | Meninggalkan komentar

TWIST ENDING, NAON ETA TEH?

TWIST ENDING, NAON ETA TEH?

 

Film mangrupa hasil karya manusa dina wangun video katut audio. Unsur-unsur nu aya dina film ampir sarua jeung karya sastra wangun carita kayaning tema, palaku, alur, jeung setting. Bédana ari dina film mah aya unsur sinematografi, acting, jeung diwangun ku unsur sutradara, produser, penata kamera, casting, jsb. Genre film rupa-rupa saperti action, drama, komedi, thriller, misteri, horror, jeung sajabana. Éta genre-genre film téh sakapeung mah henteu ajeg mandiri, tapi diadumaniskeun (gabungan). Contona drama-action, action-thriller, komedi-mistery jeng sajabana.

Pikeun kuring, nalika nonton film nu ditungguan téh tungtung carita (ending). Ending film ogé rupa-rupa aya happy ending, sad ending, ambigu, jeung twist. Naon ari twist? ceuk kalimah basajan mah twist téh nalika urang nongton film terus pas tamat urang nyarita geuning kitu?wah teu nyangka pisan. Tah kitu, twist ending téh nya éta tungtung film nu ngandung unsur “kejutan”, teu disangka-sangka. Alur carita nu disusun ku sutradara ngagiring opini nu nongton ka titik nu sabenerna mah lain éta, lain ka dinya. Conto dina film Sixth sense (1999, Bruce Willlis). Sutradara éta film nya éta M.Night Shyamalan nungtun urang  nongton sangkan museur (fokus)kana pasualan si budak leutik nu miboga indera kagenep, kumaha éta budak bisa ngaréngsékeun pasualan-pasualan dirina dibantuan ku saurang psikiater (Bruce Willis). Nepika di tungtung carita urang dijadikeun “what?”kagét luar biasa, teu nyangka geuning si psikiater téh … (ulah diteruskan ah spoiler). Tah kuring mah kataji pisan ku film-film saperti kitu téh, film-film nu miboga unsur “kejut”.

Film-film saperti kitu biasana mah mangrupa film thriller atawa misteri. Ieu hal téh kusabab sutradara ngajak nu nongton pikeun ngira-ngira kumaha sabenerna tungtugn carita éta film. Dina film “Memento” karya sutradara Christoper Nolan (The Dark Knight, Prestige, Inception) urang salaku nu nongton sapanjang film ngira-ngira saha sabenerna nu maténi (membunuh) istri si palaku utama. Nepi ka tungtung film urang ditipu ku sutradara, geuning pembunuhna téh …(tongton wé nyalira). Dina film Secret Windows (Jhony depp), si palaku utama dikukuntit (dihantui) ku hiji jirim nu teu jelas saha sabenerna. Manéhna kaganggu pisan ku munculna hiji jalma nu teu jelas beungeutna da datangna téh di tempat-tempat nu poék. Antukna kuring salaku nu nongton kagét pisan nalika kanyahoan geuning nu ngaganggu si palau utama téh geuning …(spoiler ah).

Film-film nu twist ending sakapeung mangrupa film-film nu “beurat”. Dibutuhkeun konséntrasi, pangaweruh (pengetahuan), jeung pamikiran nu seukeut. Conto dina film Inception, rada hésé ngabédakeun nu mana ngimpi nu mana nu nyata. Tungtung éta film ogé rada ambigu, naha si Cobbs (Leonardo Dicaprio) téh aya dina jero ngimpina atawa aya dina dunya nu nyata. Film Vanilla Sky (Tom Cruise) ogé kaasup katégori film ieu. Konsép Lucid Dream, jadi konsep utama éta film. Nu mana ngimpi nu mana nu nyata, rada susah pikeun dibédakeun. Aya deui hiji film nu kawilang beurat, maahan mah beurat pisan nya éta 2001 A space Odyssey. Film heubeul dijieunna taun 1968, tapi nepi ka ayeuna can aya katerangan nu jelas ngeunaan maksud éta film. Ambigu, ambigu pisan. lamun urang nongton éta film pasti nu tara nongton film moal nepika tamat nongtonna, naha? Filmna minim dialog, aya scene nalika si palaku utama kakalayangna di luar angkasa salila sababaraha menit, aya scene nalika primata (monyét) ngumpul jeung btur-baturna, dahar, paséa jeung kelompok séjén, tangtuna euweuh dialog.

Balik deui kana twist ending, sutradara-sutradara nu mindeng nyieun film saperti kitu nya éta Christoper Nolan, David Lynch, M. Night Syamalan, David Fincher, mun di Inonesia aya Joko Anwar nu nyieun film Kala, Pintu Terlarang, jeung Modus Anomali. Film-film béda jeung film Indonésia nu lian, misterina luar biasa hade dibungkus kalawan rapih diéksékusi ku ending nu wah… luar biasa hébat, teu nyangka, twist.

Nongton film pikeun kuring mah mangrupa hijihiburan nu luar biasa, kacapé, kasusah, pasualan-pasualan dina pagawéan,pasualan-pasualan pribadi sakapeung mah leungit ku alatan nongton film. Pikiranjadi fresh deui, pangaweruh nambahan,sarta aya “kepuasan batin”. Cag ah…

23 September 2014 Posted by | Alakadarna | , | Meninggalkan komentar

Buku Siswa Kelas X

di handap aya buku siswa basa Sunda kelas XI, sumberna ti disdik provinsi Jawa Barat

Kelas 10-PDF 2014

13 Agustus 2014 Posted by | Uncategorized | Meninggalkan komentar

Buku Siswa SMA

Di handap aya buku siswa SMA kelas XI kurikulum 2013. kantun klik linkna

BUKU SISWA KLS 11

5 Agustus 2014 Posted by | Uncategorized | 4 Komentar

PELAYANAN PRIMA DI INSTANSI PUBLIK

Instansi publik mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan yang maksimal  kepada masyarakat (pelayanan public). Pelayanan publik adalah segala bentuk pelayanan yang diberikan oleh pemerintah pusat / daerah, BUMN / BUMD dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Keputusan Menpan No. 81/1993). Dalam rangka mewujudkannya, maka diperlukan bentuk pelayanan prima.. Pelayanan prima merupakan bentuk layanan terbaik yang diberikan kepada pelanggan atau masyarakat.  Bentuk layanan ini tentu saja harus sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan oleh masing-masing instansi. Beberapa kasus di bawah ini bisa menjadi contoh nyata layanan instansi publik terhadap masyarakat (pelanggan).
Baca lebih lanjut

28 Desember 2013 Posted by | Alakadarna | | Meninggalkan komentar

PRAMUKA DAN KURIKULUM 2013

pramuka04Dalam Permendikbud No. 81 A tahun 2013 tentang implementasi kuikulum 2013 disebutkan bahwa Kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda; seperti perbedaan sense akan nilai moral dan sikap, kemampuan, dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya. Kegiatan ekstrakurikuler juga memberikan manfaat sosial yang besar. Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu perangkat operasional (supplement dan complements). Dalam peremdnikbud tersebut juga disebutkan bahawa ekstra kulikuler ada yang bersipat wajibdana ada eksztrakulikuler pilihan. Ekstra kulikuler wajib merupakan ekstra kulikuler yang harus diikuti oleh seluurh peserta didik, kecuali bagi peserta diidk tertentu yang tidak memungkinkan untuk mengikuti ekstra kulikuler tersebut. Sedangka ekstra kulikuler pilihan adalah ekstar kulikuler yang bisa diikuti oleh peserta didik sesuai dengan minat dan bakatnya. Ekstra kulikuler wajib dalam kurikulum 2013 adalah gerakan kepramukaan. Baca lebih lanjut

27 Desember 2013 Posted by | Alakadarna | , | Meninggalkan komentar

Kurikulum 2013 dan Bahasa Sunda

KURIKULUM 2013 DAN BAHASA SUNDA
(Opini “Kabar Priangan” 12 September 2013)

Foto07821

Surat Edaran Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat tentang mata pelajaran Bhasa Sunda di kurikulum 2013 seakan menjadi angin segar bagi guru-guru bahasa Sunda yang sedang akhir-akhir ini sedang “galau” karena dalam struktur kurikulum 2013 yang dimuat dari pusat tidak terdapat mata pelajaran bahasa Sunda.
Masalah seakan selesai dengan keluarnya surat edaran tersebut, tapi ternyata kenyaataannya tidak seperti yang diharapkan. Masih banyak sekolah di Jawa Barat yang “keukeuh” dengan pandangannya bahwa dalam kurikulum 2013 tidak terdapat pelajaran Bahasa Sunda. Guru-guru bahasa Sunda pun kembali “galau”. Hal ini terlihat di grup-grup jejaring social guru bahasa daerah Jawa Barat yang membicarakan hal ini. Baca lebih lanjut

14 September 2013 Posted by | Alakadarna, Uncategorized | , | 2 Komentar

KI KD BASA SUNDA KURIKULUM 2013

KI KD mata pelajaran basa Sunda parantos ayogi di website resmi UPI Bandung. linkna ieu di handap
KI KD Basa Sunda kurikulum 2013

30 Juli 2013 Posted by | Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 194 pengikut lainnya.