Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

STATISTIKA DESKRIPTIF PENYAJIAN DATA TABEL DAN GRAFIK

Lecture Note 02

STATISTIKA DESKRIPTIF

PENYAJIAN DATA TABEL DAN GRAFIK

oleh: Kusnendi*

 

 

1. Tujuan

<  Menyajikan data yang dikumpulkan dari populasi dan atau sampel menjadi data yang tertata secara sistematis sehingga bermakna informasi untuk membantu pengambilan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan.

 

2. metode PEnyajiaN data: TABEL dan GRAFIK

q  TabeL: tunggal (satu variabel) dan ganda (multi variabel).

TABEL 2.1

Jumlah Pegawai Perusahaan A Menurut Golongan, Umur dan Pendidikan Tahun 2005

Golongan

Umur (tahun)

Pendidikan

25-35

> 35

Bukan Sarjana

Sarjana

I

40

50

90

0

II

45

52

97

0

III

120

275

185

210

IV

2

25

0

27

Jumlah

207

402

372

237

Sumber: Data Hipotetis.

*Dosen Pascasarjana UPI bandung dan Mata Kuliah Statistik Pascasarjana UNIGAL

untuk mendapatkan file lengkapnya silahkan didownload di link di bawah ini

STATISTIKA DESKRIPTIF PENYAJIAN DATA

1 Juni 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | | Tinggalkan komentar

penjaminan Mutu SBI (indikator kinerja kunci minimal dan tambahan)

Penjaminan Mutu SBI (indikator kinerja kunci minimal dan tambahan)

Penjaminan mutu SBI harus memnuhi standar nasional pendidikan ditambah dengan indikator kinerja kunci tambahan yang telah ditetapkan Kemendiknas. indikator kinerja kunci tambahan (IKKT) merupakan kriteria atau idikator tambahan setelah memnuhi indikator kinerja kunci minimal (IKKM).

di bawah ini penjaminan mutu SBI (IKKM dan IKKT) yang bisa anda download (versi pdf)

Pedoman Penjaminan Mutu SMBI-New

dibawah ini disajikan artikel mengenai RSBI dari images.derizzain.multiply.multiplycontent.com Baca lebih lanjut

30 April 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | | 1 Komentar

Permendiknas 78 tahun 2009 tentang SBI

Permendiknas 78 tahun 2009 tentang SBI

Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) adalah sekolah yang telah memenuhi 8 standar nasional pendidikan yang diperkaya dengan standar pendidikan negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). tujuan penyelenggaraan SBI ini adalah melahirkan lulusan yang punya daya saing yang kompeten di dunia internasional. penyelenggaraan SBI harus berpedoman pada peraturan yanag ada yaitu Permendiknas No.78 tahun 2009 tentang Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).

di bawah ini ada copy Permendiknas no.78 tahun 2009 tentang SBI yang bisa anda download

permendiknas_nomor_78_tahun_2009_tentang_penyelenggaraan_sbi

Di bawah ini ada tulisan tentang RSBI dari http://www.sekolahinternasional.com/

RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

sumber: http://www.sekolahinternasional.com/

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) adalah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang menyiapkan peserta didik berdasarkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) Indonesia dan bertaraf Internasional sehingga diharapkan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Baca lebih lanjut

30 April 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | | Tinggalkan komentar

logo PASCA UNIGAL

mangga didownload we di handap

22 Maret 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | Tinggalkan komentar

kepemimpinan pendidikan

KEPEMIMPINAN DALAM MANAJEMEN PENDIDIKAN

A.    Hakikat Pemimpin

“Pemimpin pada hakikatnya adalah seorang yang mempunyai kemampuan untuk memepengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.”[2]

Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

4

Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama di antara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengnaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan sosial yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya tejadi suatu hubungan timbal balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapakan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, kareana apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.

B.    Tipe-Tipe Kepemimpinan

Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu :

1.      Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan.

2.      Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan.

3.      TIpe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.

4.      Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.

5.      Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya.

6.      Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung.[3]

Selanjutnya menurut Kurt Lewin yang dikutif oleh Maman Ukas mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan menjadi tiga bagian, yaitu :

1.      Otokratis, pemimpin yang demikian bekerja kerang, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan yang berlaku dengan ketat dan instruksi-instruksinya harus ditaati.

2.      Demokratis, pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.

3.      Laissezfaire, pemimpin yang bertipe demikian, segera setelah tujuan diterangkan pada bawahannya, untuk menyerahkan sepenuhnya pada para bawahannya untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Ia hanya akan menerima laporan-laporan hasilnya dengan tidak terlampau turut campur tangan atau tidak terlalu mau ambil inisiatif, semua pekerjaan itu tergantung pada inisiatif dan prakarsa dari para bawahannya, sehingga dengan demikian dianggap cukup dapat memberikan kesempatan pada para bawahannya bekerja bebas tanpa kekangan.[4]

Berdasarkan dari pendapat tersebut di atas, bahwa pada kenyataannya tipe kepemimpinan yang otokratis, demokratis, dan laissezfaire, banyak diterapkan oleh para pemimpinnya di dalam berbagai macama organisasi, yang salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Dengan melihat hal tersebut, maka pemimpin di bidang pendidikan diharapkan memiliki tipe kepemimpinan yang sesuai dengan harapan atau tujuan, baik itu harapan dari bawahan, atau dari atasan yang lebih tinggi, posisinya, yang pada akhirnya gaya atau tipe kepemimpinan yang dipakai oleh para pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan benar-benar mencerminkan sebagai seorang pemimpinan yang profesional.

 

C.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin Dalam Manajemen Pendidikan

Dalam melaksanakan aktivitasnya bahwa pemimpin dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Faktor-faktor tersebut sebagaimana dikemukakan oleh H. Jodeph Reitz (1981) yang dikutif Nanang Fattah, sebagai berikut :

1.      Kepribadian (personality), pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin, hal ini mencakup nilai-nilai, latar belakang dan pengalamannya akan mempengaruhi pilihan akan gaya kepemimpinan.

2.      Harapan dan perilaku atasan.

3.      Karakteristik, harapan dan perilaku bawahan mempengaruhi terhadap apa gaya kepemimpinan.

4.      Kebutuhan tugas, setiap tugas bawahan juga akan mempengaruhi gaya pemimpin.

5.      Iklim dan kebijakan organisasi mempengaruhi harapan dan perilaku bawahan.

6.      Harapan dan perilaku rekan.[5]

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, maka jelaslah bahwa kesuksesan pemimpin dalam aktivitasnya dipengaruhi oleh factor-faktor yang dapat menunjang untuk berhasilnya suatu kepemimpinan, oleh sebab itu suatu tujuan akan tercapai apabila terjadinya keharmonisan dalam hubungan atau interaksi yang baik antara atasan dengan bawahan, di samping dipengaruhi oleh latar belakang yang dimiliki pemimpin, seperti motivasi diri untuk berprestasi, kedewasaan dan keleluasaan dalam hubungan social dengan sikap-sikap hubungan manusiawi.

Selanjutnya peranan seorang pemimpin sebagaimana dikemukakan oleh M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :

1.      Sebagai pelaksana (executive)

2.      Sebagai perencana (planner)

3.      Sebagai seorangahli (expert)

4.      Sebagai mewakili kelompok dalam tindakannya ke luar (external group representative)

5.      Sebagai mengawasi hubungan antar anggota-anggota kelompok (controller of internal relationship)

6.      Bertindak sebagai pemberi gambaran/pujian atau hukuman (purveyor of rewards and punishments)

7.      Bentindak sebagai wasit dan penengah (arbitrator and mediator)

8.      Merupakan bagian dari kelompok (exemplar)

9.      Merupakan lambing dari pada kelompok (symbol of the group)

10.  Pemegang tanggung jawab para anggota kelompoknya (surrogate for individual responsibility)

11.  Sebagai pencipta/memiliki cita-cita (ideologist)

12.  Bertindak sebagai seorang aya (father figure)

13.  Sebagai kambing hitam (scape goat).[6]

Berdasarkan dari peranan pemimpin tersebut, jelaslah bahwa dalam suatu kepemimpinan harus memiliki peranan-peranan yang dimaksud, di samping itu juga bahwa pemimpin memiliki tugas yang embannya, sebagaimana menurut M. Ngalim Purwanto, sebagai berikut :

1.      Menyelami kebutuhan-kebutuhan kelompok dan keinginan kelompoknya.

2.      Dari keinginan itu dapat dipetiknya kehendak-kehendak yang realistis dan yang benar-benar dapat dicapai.

3.      Meyakinkan kelompoknya mengenai apa-apa yang menjadi kehendak mereka, mana yang realistis dan mana yang sebenarnya merupakan khayalan.[7]

Tugas pemimpin tersebut akan berhasil dengan baik apabila setiap pemimpin memahami akan tugas yang harus dilaksanaknya. Oleh sebab itu kepemimpinan akan tampak dalam proses di mana seseorang mengarahkan, membimbing, mempengaruhi dan atau menguasai pikiran-pikiran, perasaan-perasaan atau tingkah laku orang lain.

Untuk keberhasilan dalam pencapaian suatu tujuan diperlukan seorang pemimpian yang profesional, di mana ia memahami akan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin, serta melaksanakan peranannya sebagai seorang pemimpin. Di samping itu pemimpin harus menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan bawahan, sehingga terciptanya suasana kerja yang membuat bawahan merasa aman, tentram, dan memiliki suatu kebebsan dalam mengembangkan gagasannya dalam rangka tercapai tujuan bersama yang telah ditetapkan.

konsep kepemimpinan dalam bentuk power point dapat di download di bawah ini

Leadership

20 Maret 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | | 2 Komentar

metode penelitian bahan kuliah pasca

METODOLOGI PENELITIAN

SUMBER http://azizahkh.wordpress.com

Metode kuantitatif dan kualitatif berkembang terutama dari akar filosofis dan teori sosial abad ke-20. Kedua metode penelitian di atas mempunyai paradigm teoritik, gaya, dan asumsi paradigmatik penelitian yang berbeda. Masing-masing memuat kekuataan dan keterbatasan, mempunyai topik dan isu penelitian sendiri, serta menggunakan cara pandang berbeda untuk melihat realitas sosial.

Penelitian pada hakikatnya adalah berusaha mendapatkan informasi tentang sistem yang ada (dan beroperasi) pada obyek yang sedang diteliti, maka peneliti perlu menentukan cara menemukan informasi tentang sistem yang sedang dicari itu. Cara menemukan informasi itulah yang bervariasi baik dengan menggunakan metode kuantitatif, kualitatif maupun menggabungkan dari kedua metode tersebut. Perbedaan yang berawal dari paradigma pengetahuan yang berbeda itu nampak pada praktek kegiatan penelitiannya, yaitu dalam penentuan tujuan (masalah), penentuan macam data yang dicari, penentuan sumber data, penentuan instrumen pengumpul data, kegiatan pengumpulan dan analisis data. Baca lebih lanjut

20 Maret 2011 Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) | | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 190 pengikut lainnya.