Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

BAHASA SUNDA DI KURIKULUM 2013

BAHASA SUNDA DI KURIKULUM 2013

(Forum Guru Pikiran Rakyat, 13 Desember 2012)

fgKurikulum 2013 akan segera datang dan akan segera membahana di seluruh Indonesia. Draf kurikulum sudah siap, Uji public telak tilakukan Kemdikbud, tinggal menunggu untuk diberlakukan.   Membuka dan menelaah Draf kuirkulum 2013, ada sesuatu yang mengusik pikiran. Muatan local tidak lagi menjadi mata pelajaran tapi “hanya” sebagai bahan di pelajaran seni budaya dan prakarya.

Muatan local adalah pelajaran yang kontennya merupakan cirri khas daerah, keberadaannya diatur dalm UU Sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas ) No.20 tahun 2003 pasal 37 ayat 1, PP no.19 tahun 20005 tentang Standar Nasional Pendidikan, serta Permendiknas no.22 tahun 2006 tentang standar isi. Ciri khas dan keunggulan daerah menjadi muatan mulok, oleh karena natara daerah yang satu dengan yang lain pasti terdapat perbedaan. Muatan local wajib jawa Barat adalah Bahasa Sunda dan Pendiidkan Lingkungan Hidup. Muatan local wajib Bahas sunda termuat dalam Perda Jabar No. 5 Tahun 2003. Isi peraturan daerah tersebut adalah tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah, yang menetapkan bahasa daerah, antara lain, bahasa Sunda, diajarkan di pendidikan dasar dan menengah di Jawa Barat.  Dengan melihat draff kurikulum 2013, ada kecenderungan yang sangat besar, mulok bahasa daerah (Sunda) tidak akan menjadi mata pelajaran yang mandiri, dengan kata lain akan dihilangkan. Timbul pertanyaan apakah memang bahasa daerah tidka perlu lagi diajarkan? Saya kira tidak.

Bahasa merupakan salsatu unsure budaya. Bahasa merupakan ciri khas dan identitas sebuah komunitas (suku bangsa, bangsa). Jepang punya bahasa Jepang, Inggris punya bahasa Inggris, China punya bahasa China, Spanyol punya bahasa spanyol. Jepang sangat bangga mempunyai budaya dan bahasa sendiri. Budaya mereka jaga, bahasa mereka pelihara, tapi teknologi juga mereka utamakan. China sangat bangga mempunyai tulisan yang berbeda dengan tulisan latin. Tulisan (aksara) china sampai dengan saat ini tetap dipakai untuk berbagai kegiatan, sekalipun kegatan ilmiah. Indonesia mempunyai beragam suku bangsa, tentunya juga beragam bahasa daerah. Apakah kita bangga dengan hal itu? entahlah. Ada bahasa Jawa, Sunda, Batak, dayak, Minang, Papua, Madura, dan banyak lagi. Ketika bahasa daerah tidak lagi dipakai dan dikenal oleh anak-anak dan generasi muda, maka tunggulah suatu saat bahasa itu akan musnah. Siswa sebagai generasi penerus bangsa, calon pemimpin bangsa, dan pengganti kita yang suatu saat nanti akan meninggalkan mereka menjadi harapan penjaga kelestarian budaya. Ketika mereka tidak lagi mengenal budayanya, tidak lagi mengenal bahasanya, maka bahasa itu akan musnah. Kurikulum 2013 menghilangkan muatan local bahasa daerah, tentu akan mengakibatkan bahasa daerah menjadi asing, menjadi barang langka, dan hanya tinggal sejarah.

Kurikulum 2013 berangkat dari beberapa alasan salasatunya adalah adanya fenomena negative yang berkembang di kalangan siswa. Bahasa Sunda juga mengenal adanya babasan dan paribasa yang banyak mengadung pesan moral dan nilai-nilai luhur budaya Sunda. Contohnya Cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok, yang mengandung nilai moral jika kita sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu maka lama kelamaan akan terlihat hasilnya. Nete taraje, nincak hambalan, yang mengajarkan pada kita agar tidak berpikir dan melakukan secara instan, semua juga ada proses ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Masih banyak lagi paribasa yang mengandung nilai-nilai moral dan patut dijadikan tuntunan. Jika hal ini tersampaikan kepada siswa, maka lama kelamaan akan melekat dalam pikirannya dan pada akhirnya akan menjadi kebiasaan. Artinya nilai-nilai luhur budaya akan manjadi ciri kepribadian siswa. Jika hal ini sudah terjadi, saya optimis tawuran, narkoba, plagiatisme, dan tindakan-tindakan negative lainnya akan musnah. Siswa akan menjadi pribadi yang santun, jujur, dan menghargai orang lain.

Kurikulum 2013 akan segera datang, jika sampai mulok bahasa Sunda menghilang maka kita patut bertanya. mengapa kita selalu mengagung-agungkan bahasa asing? Mengapa budaya kita, bahasa kita, kepribadian kita sebagai bangsa  seakan-akan dilupakan? Coba tanya pada rumput yang bergoyang.

About these ads

20 Desember 2012 - Posted by | Alakadarna | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 180 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: