Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

PENAMBAHAN JUMLAH JAM PELAJARAN DI KURIKULUM 2013

4

PENAMBAHAN JUMLAH JAM PELAJARAN DI KURIKULUM 2013

(Forum Guru Pikiran Rakyat, Edisi Sabtu 1 Desember 2012)

Tahun 2013 akan segera datang, begitu juga kurikulum. Tahun ajaran 2013/2014 kementrian pendiidkan dan kebudayaan rencananya akan memberlakukan kuriulum 2013. Kurikulum tingkat satuan pendiidkan (KTSP) yang berjalan sejak 2006 akan segera diganti.

Kurikulum pada akhirnya memang akan berganti, tidak mungkin akan terus menerus memakai kurikulum yang sama. Roda dunia terus berputar, perubahan-perubahan terus terjadi, kemajuan teknologi informasi setiap saat terjadi, tuntutan zaman akan selalu berubah. Fenomena-fenomena negative yang sekarang terjadi seperti korupsi, perkelahian pelajar, plagiatisme, narkoba, permasalah moral menjadi titik utama permasalahnnya. Dengan alasan-alasan itu mungkin KTSP dianggap sudah layak untuk diganti, entah itu revisi ataupun perubahan secara frontal.

Beban belajar yang terlalu padat yang ditandai dengan terlalu banyaknya jumlah mata pelajaran juga menjadi alasan lain pemberlakuan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 rencananya akan mengurangi jumlah pelajaran. Pada tingkat SD yang tadinya 10 mata pelajaran menjadi 6 sampai 8 pelajaran, tingkat SMP dan SMA/K juga akan dikurangi. Pengurangan jumlah pelajaran ini diharapkan akan membuat siswa lebih bisa mengembangkan kompetensi yang dimilikinya. Pengurangan jumlah pelajaran di kurikulum 2013 akan diiringi dengan penambahan jam pelajaran. Hal yang aneh disini terjadi, menurut logika jika jumlah pelajaran dikurangi maka jam pelajaran pun akan berkurang, tapi yang terjadi adalah jumlah jam pelajaran bertambah. Hal ini dikarenakan jumlah jam tiap pelajaran akan akan bertambah dengan cukup signifikan. Contohnya, jumlah jam pelajaran di tingkat SMP yang tadinya 32 jam mejnajdi 38 jam.

Penambahan jumlah jam pelajaran dilakukan dengan alasan, pertama perubahan proses pembelajan dan proses penilaian. Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 akan lebih menitik beratkan pada praktek, penilaian juga akan lebih pada penilaian proses. Kedua, perbandingan dengan Negara-negara lain menunjukan bahwa jumlah jam pelajran di Indonesia termasuk singkat. Ketiga, dengan penambahan jam pelajaran akan membuat siswa lebih sering berada di sekolah, hal ini diharapkan akan membuat sekolah lebih leluasa dalam memberikan pembelajran karakter atau moral.

Pertanyaan muncul, apakah apakah penambahan jam pelajaran akan efektif untuk meningkatkan mutu pembelajaran? Apakah sekolah sudah siap melaksanakannya? Apakah guru juga sudah siap? Penmabahan jam pelajaran memang akan membuat siswa lebih lama berada disekolah, tapi apakah siswa siap untuk melaksanakannya? Mari kita lihat permasalah-permasalahan ini.

Perbandingan jumlah jam pelajaran dengan Negara lain tidak bisa dijadikan acuan karena negara-negara yang melaksankan jam pelajaran lebih banyak sudah siap untuk melaksankannya. Sekolah sebagai tempat dilaksankannya kurikulum pendidikan di Negara-negara tersebut sudah sangat siap. Sarana prasarana di sekolah berbasis teknologi informasi serta lingkungan sekolah yang nyaman. Kondisi sekolah di Indonesia menurut hemat saya tidak siap untuk melaksanakan penambahan jam pelajaran. Siswa berada di sekolah sampai sore (fullday school) hanya akan manambah beban sekolah. Sarana prasarana sekolah dan kondisi sekolah belum siap untuk melaksanaknnya.

Siswa lebih banyak berada di sekolah memang memungkinkan tersampaikannya pendidikan karakter atau moral secara lebih banyak. Pertanyaannya adalah apakah siswa siap? Kembali lagi bahwa kondisi sekolah-sekolah di Indonesia belum siap. Rasa nyaman, rasa senang, rasa gembira dalam belajar menjadi harapan siswa dan semua pihak. Apakah sekarang sudah seperti itu? Siswa harus merasa nyaman dan betah di sekolah. Jika siswa di sekolah sampai sore, apakah siswa akan nyaman dan betah dengan kondisi sekolah yang sekarang ada? Memang jika di kota-kota besar sarana prasaran dan lingkungan sekolah sudah kondusif, tapi tengok kondisi sekolah-sekolah di daerah. Dengan penambahan jam pelajaran malah akan menjadi boomerang, kejenuhan akan melanda siswa tentunya akan berdampak pada prestasi belajar dan kondisi mentalnya. Bolos sekolah mungkin akan menjadi salsatu akibatnya.

Guru sebagai pihak yang merancang, mengelola, dan menilai pembelajaran yang berlangsung juga akan terkena dampak. Guru akan lebih banyak berada di sekolah, artinya waktu untuk membuat persiapan proses pembelajaran akan berkurang. Waktu guru untuk berada di rumah dalam keadaan teanng dan nyaman untuk membuat perencaan pembelajaran yang matang dan menarik akan berkurang. Bukankah ini masalah? Perencaan pembelajaran yang matang dan juga menyenangkan mutlak dibutuhkan agar siswa nyaman dan senang dalam belajar.

Permasalah-permasalah ini patut dipikirkan semua pihak. Apakah perlu penambahan jam pelajaran itu perlu? Coba Tanya pada rumput yang borgoyanng. Tapi rumput tidak akan mampu menjawab permasalah ini. Rumput hanya akan jadi saksi perubahan zaman, hanya akan jadi saksi berubahnya kurkikulum dari waktu ke waktu. Perubahan yang menjadi pertanyaan apakah didasari niat tulus untuk meningkatan mutu pendidikan Indonesia ataukah hanya proyek yang penuh dengan pundi-pundi yang menggiurkan?

About these ads

8 Desember 2012 - Posted by | Alakadarna |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 180 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: