Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

Mutu Pembelajaran

2.1.1        Mutu Pembelajaran

2.1.1.1  Konsep Mutu

Mutu adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan oleh pelanggan (Tim Dosen 2010:295). Mutu atau kualitas menitikberatkan fokusnya pada kepuasan pelanggan (konsumen). Barang atau jasa yang dihasilkan diupayakan agar sesuai dengan keinginan pelanggan.

Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia mutu diartikan sebagai ukuran baik atau buruk suatu benda, taraf atau derajat. Pengertian mutu tersebut lebih mengedepankan mutu sebagai mutu barang atau jasa. Barang atau jasa yang bemutu berrati juga bermutu tinggi.  Sallis (2006 : 33 ) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan.

Engkoswara (2010:304) mengemukakan bahwa mutu bukanlah konsep yang mudah untuk didefinisikan apalagi untuk mutu jasa yang dapat dipersepsi secara beragam. Mutu dapat didefinisikan beragam berdasarkan kriterianya sendiri seperti:

1)        Melebihi dari yang dibayangkan dna diingnkan

2)        Kesesuaian antara keinginan dan keyataan

3)        Sangat cocok dengan pemakaian

4)        Selalu ada perbaikan dna penyempurnaan

5)        Dari awal tidak ada kesalahan

6)        Membahagiaan pelanggan

7)        Tidak ada cacat atau rusak

Beberapa ahli berpendapat mengenai definisi mutu ini (Engkoswara 2010:3-4-305) sebagi berikut:

1)      Goetsch dan Davis (1994:4) mutu merupakan suatu ondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan

2)      Juran (1995:10-13) mendefinisikan mutu sebagai kecocokan untuk pemakaian.

3)      Crosbi (1983) berpendapat bahwa mutu adalah kesesuain individual terhadap persyaratan/tuntutan.

4)      Ishikawa (1992:432) menyatakan bahwa “quality is costumer satisfaction”. Berrati mutu berkaitan langsung dengan kepuasan pelanggan

Sallis (Tim Dosen 2010:295) mendefinisikan mutu ke dalam dua perseptif yaitu persepektif mutu absolute dan mutu relative. Mutu absolute berkaitan dengan produsen, menyangkut ukuran terbaik yang telah ditentukan. Sedangkan mutu relative berkaitan dengan konsumen menyangkut kepuasan konsumen. Dengan demikian barang atau jasa yang diproduksi harus selalu mengutamakan kesesuaian anatara mutu absolute dan mutu relative. Artinya harus memuaskan pelanggan juga sesuai criteria atau spesifikasi yang telah ditentukanprodusen. Walaupun demikian mutu absout atau spesispikasi yang ditetapkan pada hakkatnya adalah untuk member kepuasan pada pelanggan. Jadi jelas bahwa mutu berkaitan dengan kepuasan pelanggan.

Dalam tataran abstrak mutu telah didefinisikan oleh dua pakar penting bidang mutu yaitu Joseph Juran dan Edward Deming. Mereka berdua telah berhasil menjadikan mutu sebagai mindset yang berkembang terus dalam kajian managemen, khususnya managemen mutu. Menurut Juran, mutu adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use), ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna, lebih jauh Juran mengemukakan lima dimensi mutu yaitu rancangan (design), kesesuaian (conformance), ketersediaan (availability), keamanan (safety), serta guna praktis (field use).

Tokoh lain yang mengembangkan managemen mutu adalah Edward Deming. Menurut Deming meskipun mutu mencakup kesesuaian atribut produk dengan tuntutan konsumen, namun mutu harus lebih dari itu. Menurut Deming (Engkoswara 2010: 307) terdapat empatbelas poin penting yang dapat membawa/membantu manager mencapai perbaikan dalam kualitas yaitu :

1)        Menciptakan kepastian tujuan perbaikan produk dan jasa

2)        Mengadopsi filosofi baru dimana cacat tidak bisa diterima

3)        Berhenti tergantung pada inspeksi missal

4)        Berhenti melaksanakan bisnis atas dasar harga saja

5)        Tetap dan continue memperbaiki system produksi dan jasa

6)        Melembagakan metode pelatihan kerja modern

7)        Melembagakan kepemimpinan

8)        Menghilangkan rintangan antar departemen

9)        Hilangkan ketakutan

10)    Hilangkan/kurangi tujuan-tujuan jumlah pada pekerja

11)    Hilangkan managemen berdasarkan sasaran

12)    Hilangkan rintangan yang merendahkan pekerja jam-jaman

13)    Melembagakan program pendidikan dan pelatihan yang cermat

14)    Menciptakan struktur dalam managemen puncak yang dapat melaksanakan transformasi seperti dalam poin-poin di atas.

prinsip mutu merupakan sejumlah asumsi yang dinilai dan diyakini memiliki kekuatan untuk mewujudkan mutu. Terdapat delapn prinsip mutu menurut ISO (Tim Dosen 2010:298) yaitu:

1)        Customer focused organization (fokus pada pelanggan)

2)        Leadership (kepemimpinan)

3)        Involvement of people (keterlibatan orang-orang)

4)        Process approach (Pendekata proses)

5)        System approach to management (pendekatan system dalam manajemen)

6)        Continual invorentment (peningkatan secara berkelaqnjutan)

7)        Factual approach to decision making (pendekatan factual dalam pengambilan keputusan)

8)        Mutually beneficial supplier relationship (hubungan yang saliang mengntungkan dengan supplier)

Riduwan (2010:24) memaparkan bahwa ukuran variable manajemen mutu dilihat dari perilakunya dalam mewujudkan pelayanan kepada stakeholder. Masih menurut Riduwan, dimensi variable manajmen mutu yaitu perencanaan strategis untuk mutu, penerapan pengelolaan mutu, serta peningkatan pelayanan mutu.

Berdasarakan beberapa penjelasan di atas, jadi dapat disimpulkan bahwa mutu dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu secara absolute dan secara ….. secara absolute dilihat dari sudut pandang pemberi layanan (barang atau jasa) yaitu mengenai ukuran tertentu yang sudah ditentukan. Sedangkan mutu secara relative dilihat dari sudut pandang pengguna layanan (konsumen) yaitu ukuran kepuasan terhadap kualiatas barang ataua jasa. Jika ditarik sebuah benag merah, maka pada dasarnya mutu absolute juga menyangkut kepuasan pelanggan. Hal ini karena ukuran terbaik yang ditetapkan pada dasarnya adalah ntuk member kepuasan kepada pelanggan.

2.1.1.2  Konsep Pembelajaran

Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajran merupakan aktivitas yang paling utama (Surya 2004;7). Lebih lanjut Surya memaparkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang diakukan oleh individu untuk memeperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dlaminteraksi dengan lingkungannya.

Proses interaksi antara pendidik dan peserta diidk menjadi sangat penting dalam pembelajaran karena tanpa adanya interaksi edukatif poses pemeblajaran tidak akan efektif. Hal ini karena komunikasi yang dihasilkan hanya satu arah yaitu dari pendiidk kepada peserta didik. Dalam UU No.20/2003 tetang  Sistem pendidikan Nasonal Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (UU No. 20/2003, Bab I Pasal Ayat 20).  Apabila dicermati proses interaksi siswa dapat dibina dan merupakan bagian dari proses pembelajaran, seperti yang dikemukan oleh Corey (1986 ) dalam Syaiful Sagala (2003 : 61 ) dikatakan bahwa :

“ Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi- kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.”

 

Pembelajaran bukan hanya berrati transfer informasi dari tetapi bagaimana membuat peserta didik agar bisa belajar secara maksimal. Peran guru tentu saja bukan hanya sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pembimbing dan pelayan siswa. Pembelajran merupakan upaya guru untuk membangkitkan yang berarti menyebabkan atau mendorong seseorang (siswa) belajar. ( Wijaya,1992).

Menurut  Gagne, Briggs, dan wagner dalam Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.  Dlam penegrtian ini tampak jelas bahwa pembelajaran itu proses yang kompleks, bukan hanya proses pemberian informasi yang disampaikan guru pada siswa. Ada serangkaian kegiatan yang disusun untuk membuat siswa bisa belajar. Serangkain kegiatan dalam pembelajaran tentu harus direncanakan terlebih dahulu juda harus disusun sebaik mungkin disesuaikan dengan konteks situasi, materi, kondisi siswa, dan ketersediaan media pembelajaran.

Sa’ud (2010:124) memaparkan bahwa pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yan dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa. Oleh karena itu pembelajran sebagai suatu proses harus dirancang, dikembangkan dan dikelola secra kreatif, dinamis, dengan menerapkan pendekatan multi untuk menciptakan suasana dan proses pembelajaran yang kondusif bagi siswa.  Dlam hal ini guru dituntut untuk kreatif dalam menyususn rencana pembelajaran yang akan diaplikasikannya dlam proses pembelajaran. Variasi model pembelajaran harus dikuasai oelh guru dan tentu saja disesuaikan dengan materi pelajarannya.

Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa. Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran. Carl R. Roger (Riyanto 2002:1) berpendapat bahwa pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Ia mmepasilitasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dlam proses pembelajaran.

Konsep pembelajaran berbeda dengan pengajaran. Pembelajaran bukan hanya transfer informasi dari guru kepada siswa tapi lebih luas. Hal ini sesuai dengan visi pendidikan UNESCO (Indra Jati 2001;25) yaitu:

1)    Learning to think (belajar berpikir)

2)    Learning to do (belajar berbuat/hidp)

3)    Learning to live together (belajar hidup bersama)

4)    Learning to be (belajar menajdi diri sendiri)

Proses pembelajaran yang baik dilaksanakan  dengan metode Learning by doing. Hai dilaukan guna mencapai tujuan pendidikan dan pembelajran yag telah ditetapkan, untuk mencapai tujuan ini dibutuhkan suatu system pendiidkan dna pembelajaran yang mengembangkan cara berpikir aktif positif dan keterampilan yag memadai. (Riyanto 2002:3)

Surya (2003;7-10) memaparkan prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:

1)        Pembelajaran sebagai usaha memeperoleh perubahan perilku. Prinsip ini mengandung akna bahwa viri utama proses pemeblajaran ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu. Perubahan perilaku tersebut mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

a)              Perubahan yang disadari

b)              Perubahan yang bersipat kontinu

c)              Perubahan ynag bersipat fungsional

d)             Perubahan yang bersipat positif

e)              Perubahan yang bersipat aktif

f)               Perubahan yang bersipat permanen

g)              Perubahan yang bersipat terarah

2)        Hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secar keseluruhan. Prinsip ini mengandung makna bahwa perubahan perilaku sebagai hasil pemeblajaran adlah meliputi semua aspek perilaku dna bukan hanya satu atau dua aspek saja. Perubahan ini meliputi aspek-aspek perilaku kogkitif, konatif, afektif, dan motorik

3)        Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini menandung makna bahwa pembelajaran merupakan aktivitas yang berkesinambungan. Di dlam aktivitas itu ada tahapan-tahapan aktivitas ynag sistematis dan terarah. Pembelajaran merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dinamis dna saling berkaitan. Pembelajaran tidak dapat dilepaskan dari interaksi dengan lingungan, jadi selama proses pemeblajaran itu berlangsung , individu akan senantiasa berada dalm berbagai aktivitas yang tida terlepas drai lngkungannya.

4)        Proses pemeblajaran terjadi karena danya sesuatu tujua yang kan dicapai. Prinsip ini menandung makna bahwa aktivitas pembelajaran terjadi karena danya kebutuhn yang harus dipuaskan, dan adanya tujuan yang hendakdicapai. Pembelajarna kan terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan yang endorong dan ada sesuatu yang peru dicapi untuk memenuhi kebutuhanya.

5)        Pembelajaran merupakan bentu pengalaman. Pengalaman pada dasranya adalah kehidupa melalu situasi ang nyata. Dengan tujuan tertentu. Pembelajran merupakn interaksi individidu dengan lingkungannya sehingga banyak emmberikan pengalaman yang nyata. Perubaha perilaku dalam pembelajaran pada dasarnya merupkan pengalaman.

Menurut Eggen & Kauchak (1998)Menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran, yaitu:

1)        siswa menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui mengobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan,

2)        guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam pelajaran,

3)        aktivitas-aktivitas siswa sepenuhnya didasarkan pada pengkajian,

4)        guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada siswa dalam menganalisis informasi,

5)        orientasi pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir, serta

6)        guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan dan gaya mengajar guru.

2.1.1.3  Mutu Pembelajaran

Mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah, sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.

Berkaitan dengan komponen-komponen yang membentuk sistem pendidikan, lebih rinci Syaodih S. dalam Http://www.sambasalim.com/pendidikan/kualitas-proses-pembelajaran.html, mengemukakan bahwa komponen input diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:

1)        Raw input, yaitu siswa yang meliputi intelek, fisik-kesehatan, sosial-afektif dan peer group.

2)        Instrumental input, meliputi kebijakan pendidikan, program pendidikan (kurikulum), personil (Kepala sekolah, guru, staf TU), sarana, fasilitas, media, dan biaya

3)        Environmental input, meliputi lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat, dan lembaga sosial, unit kerja.

Komponen proses menurut Syaodih S., dkk (2006)  meliputi pengajaran, pelatihan, pembimbingan, evaluasi, ekstrakulikuler, dan pengelolaan. Selanjutnya output meliputi pengetahuan, kepribadian dan performansi.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat diketahui bahwa proses pembelajaran merupakan salah satu komponen sistem pendidikan yang dapat menentukan keberhasilan pembelajaran dan mutu pendidikan. Oleh karena itu untuk memperoleh mutu pendidikan yang baik, diperlukan proses pembelajaran yang berkualitas pula.

Dalam rangka mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai penjabaran lebih lanjut dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, yang di dalamnya memuat tentang standar proses. Dalam Bab I Ketentuan Umum SNP, yang dimaksud dengan standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Bab IV Pasal 19 Ayat 1 SNP lebih jelas menerangkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemampuan sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.

Mutu pembelajaran dapat dikatakan sebagai gambaran mengenai baik-buruknya hasil yang dicapai oleh peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan. Sekolah dianggap bermutu bila berhasil mengubah sikap, perilaku dan keterampilan peserta didik dikaitkan dengan tujuan pendidikannya. Mutu pendidikan sebagai sistem selanjutnya tergantung pada mutu komponen yang membentuk sistem, serta proses pembelajaran yang berlangsung hingga membuahkan hasil.

Mutu pembelajaran merupakan hal pokok yang harus dibenahi dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini guru menjadi titik fokusnya. Berkenaan dengan ini Suhadan (2010:67) mengemukakan pembelajaran pada dasarnya merupakan kegiatan akademik yang berupa interaksi komunikasi anatara pendidik dan peserta didik proses ini merupakan sebuah tindakan professional yang bertumpu padakaidah-kaidah ilmiah. Aktivitas ini merupakan kegiatan guru dalam mengaktifkan proses belajar peserta didik dengan menggunakan berbagai metode belajar. (Suhardan 2010:67)

Berkaitan dengan pembelajaran yang bermutu, Pudji Muljono (2006:29) dalam Http://www.sambasalim.com/pendidikan/kualitas-proses-pembelajaran.html menyebutkan bahwa konsep mutu pembelajaran mengandung lima rujukan, yaitu:.

1)        Kesesuaian meliputi indikator sebagai berikut: sepadan dengan karakteristik peserta didik, serasi dengan aspirasi masyarakat maupun perorangan, cocok dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan kondisi lingkungan, selaras dengan tuntutan zaman, dan sesuai dengan teori, prinsip, dan / atau nilai baru dalam pendidikan.

2)        Pembelajaran yang bermutu juga harus mempunyai daya tarik yang kuat, indikatornya meliputi: kesempatan belajar yang tersebar dan karena itu mudah dicapai dan diikuti, isi pendidikan yang mudah dicerna karena telah diolah sedemikian rupa, kesempatan yang tersedia yang dapat diperoleh siapa saja pada setiap saat diperlukan, pesan yang diberikan pada saat dan peristiwa yang tepat, keterandalan yang tinggi, terutama karena kinerja lembaga clan lulusannya yang menonjol, keanekaragaman sumber baik yang dengan sengaja dikembangkan maupun yang sudah tersedia dan dapat dipilih serta dimanfaatkan untuk kepentingan belajar, clan suasana yang akrab hangat dan merangsang pembentukan kepribadian peserta didik.

3)        Efektivitas pembelajaran sering kali diukur dengan tercapainya tujuan, atau dapat pula diartikan sebagai ketepatan dalam mengelola suatu situasi, atau “doing the right things”. Pengertian ini mengandung ciri: bersistem (sistematik), yaitu dilakukan secara teratur, konsisten atau berurutan melalui tahap perencanaan, pengembangan, pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan, sensitif terhadap kebutuhan akan tugas belajar dan kebutuhan pernbelajar, kejelasan akan tujuan dan karena itu dapat dihimpun usaha untuk mencapainya, bertolak dari kemampuan atau kekuatan mereka yang bersangkutan (peserta didik, pendidik, masyarakat dan pemerintah).

4)        Efisiensi pembelajaran dapat diartikan sebagai kesepadanan antara waktu, biaya, dan tenaga yang digunakan dengan hasil yang diperoleh atau dapat dikatakan sebagai mengerjakan sesuatu dengan benar. Ciri yang terkandung meliputi: merancang kegiatan pembelajaran berdasarkan model mengacu pada kepentingan, kebutuhan kondisi peserta didik pengorganisasian kegiatan belajar dan pembelajaran yang rapi, misalnya lingkungan atau latar belakang diperhatikan, pemanfaatan berbagai sumber daya dengan pembagian tugas seimbang, serta pengembangan dan pemanfaatan aneka sumber belajar sesuai keperluan, pemanfaatan sumber belajar bersama, usaha inovatif yang merupakan penghematan, seperti misalnya pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran terbuka yang tidak mengharuskan pembangunan gedung dan mengangkat tenaga pendidik yang digaji secara tetap. Inti dari efisiensi adalah mengembangkan berbagai faktor internal maupun eksternal (sistemik) untuk menyusun alternatif tindakan dan kemudian memilih tindakan yang paling menguntungkan.

5)        Produktivitas pada dasarnya adalah keadaan atau proses yang memungkinkan diperolehnya hasil yang lebih baik dan lebih banyak. Produktivitas pembelajaran dapat mengandung arti: perubahan proses pembelajaran (dari menghafal dan mengingat ke menganalisis dan mencipta), penambahan masukan dalam proses pembelajaran (dengan menggunakan berbagai macam sumber belajar), peningkatan intensitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar, atau gabungan ketiganya dalam kegiatan belajar-pembelajaran sehingga menghasilkan mutu yang lebih baik, keikutsertaan dalam pendidikan yang lebih luas, lulusan lebih banyak, lulusan yang lebih dihargai oleh masyarakat, dan berkurangnya angka putus sekolah.

Pembelajaran yang bermutu akan bermuara pada kemampuan guru dalam proses pembelajaran. Secara sederhana kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yaitu kemampuan merencanakan pembelajaran, proses pembelajran, serta evaluasi pembelajaran. Mutu pembelajaran  adalah  ukuran  yang  menunjukkan  seberapa  tinggi  mutu interaksi  guru  den gan  siswa  dalam  proses  pembelajaran  dalam  rangka pencapaian  tujuan  tertentu.  Proses interaksi ini dimungkinkan karena mnausia merupakan mahluk social yang membutuhkan orang lain dlam kehiduannya. Surakhmad (1986:7) memberikan pengertian bahwa ainteraksi dalam pendidikan disebut dengan interaksi edukatif, ayitu interaksi yang berlangsung dalm ikatan tujuan pendidikan. Kegiatan  belajar  mengajar  tersebut dilaksanakan  dalam  suasana  tertentu  dengan  dukungan  sarana  dan prasarana  pembelajaran  tertentu  tertentu  pula.  Oleh  karena  itu, keberhasilan  proses  pembelajaran  sangat  ter gantung  pada:  guru,  siswa, sarana  pembelajaran,  lingkungan  kelas,  dan   budaya  kelas.  Semua indikator  tersebut  harus  saling  mendukung dalam  sebuah  system  kegiatan pembelajaran  yang bermutu.

Dalam  proses  pemebelajaran  yang  bermutu  terlibat  berbagai  input  pembelajaran seperti;  siswa  (kognitif,  afektif,  atau  psikomotorik),  bahan  ajar,  metodologi  (bervariasi sesuai kemampuan  guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasaran a dan sumber  daya  lainnya  serta  penciptaan  suasana  yang  kondusif.  Mutu  proses  pembelajaran ditentukan  dengan  metode,  input,  suasana,  dan  kemampuan  melaksan akan  manajemen proses  pembelaaran  itu  sendiri.  Mutu  proses  pembelajaran  akan  ditentukan  dengan seberapa  besar  mempuan  memberdayakan  sumberdaya  yang  ada  untuk  siswa  belajar secara  produktif.  Manajemen  sekolah,  dukungan  kelas  berfungsi  mensinkronkan  berbagai input  tersebut  atau  mensinergik an  semua  komponen  dalam  interaksi  (proses)  belajar mengajar  baik  antara  guru,  siswa  dan  sarana  pendukung  di  kelas  maupun  di  luar  kelas; baik  konteks  kurikuler  maupun  ekstra-kurikuler,  baik  dalam  lingkup  subtansi  yang akademis  maupun  yang  non-akademis  dalam  suasana  yang  mendukung  proses pembelajaran.

Mengacu pada PP No. 19 tahun 2005, standar proses pembelajaran yang sedang dikembangkan, maka lingkup kegiatan untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.

Pembelajaran yang bermutu dihasilkan oleh guru yang bermutu pula. Kecakapan guru dalm mengelola proses pembelajran menjadi inti persoalannya. Tahapan-tahapan dalam proses pemeblajaran sedikitnya harus meliputi fase-fase berikut (Surakhmad 1986:45-46):

1)        Menetapkan tujuan pembelajaran yang kan dicapai

2)        Memilih dan melaksanakan metode yang tepat dan sesuai materi pelajaran serta memperhitungkan kewajaran metode tersebut dengan metode-metode yang lain

3)        Memilih dan mempergunakan alat bantu atau media guna membnatu tercapainya tujuan

4)        Melakukan penilaian atau evaluasi pembelajaran

Hal-hal di atas menjadi tugas guru. Guru dituntut untuk mmepunyai kecakapan dna pengetahuan dasar agar mampu melaksankaan tugsnya secra professional. Surakhmad (1986:47) memaprkan bahwa penegtahuan dan kecakapan dasar yan harus dimilki seorang guru yaitu:

1)        Guru harus mengenal setiap siswa. Karakteristik, kebutuhan, minat, tingkat kepandaian siswa harus bisa dipahami oleh guru.

2)        Guru harus mempunyai kecakpaan dalam bimbingan terhadap siswa. Proses pemeblajaran didalamnya terdapat prose sbimbingan. Bimbingan ini dilaksanakan sebagai bentuk layanan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan siswa dalam pemeblajaran. Dengan demikian dapat dibuat perencanaan yang baik atar dasar data tersebut.

3)        Guru harus memiliki pengetahuan dan pemahman yang luas menganai tujuan pendidikan dna tujuan pembelajran. Hal ini agar proses yang dilaksanakannya tidak menyimpang dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

4)        Guru harus mempunyai pengetahuan yang bulat menganai pelajran yang dipegangnya dna juga metode-metode yang sesuai.

Pembelajaran yang bermutu adalah pembelajaran yang efektif yang pada intinya adalah menyangkut kemampuan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru akan sangat menntukan mutu hasil pembelajaran yang akan diperoleh siswa.

Mutu pembelajaran pada hakikatnya menyangkut mutu proses dan mutu hasil pemebalajaran. Hadis (2010:97) menjelaskna bahwa mutu proses pemeblajaran diartikan sebagai mutu aktivitas pemeblajaran yang dilaksankan oleh guru dna pesrta didik di kelas dan tempat lainnya. Sedangkan mutu hasil pemeblajaran adalah mutu aktivitas pemeblajaran yang terwujud dalam bentuk hasil belajar nyata yang dicapai oleh peserta didik berupa nilai-nilai.

Fatah(Http;//repository.upi.edu/operator/upload/S_adp_0700698_chapter2.pdf) menyatakan bahwa prose pembelajaran kegiatan yang dilakukan guru dan siswa dalam proses optimalisasi masing-masing peran yang mencakup kehadiran tatap muka (estimasi waktu), aktivitas KBM, diskusi Tanya jawab, pemanfaatna buku-buku dan alat pelajaran (optimalisasi sumber-sumber belajar), yang dilaksankan selama pembelajaran berlangsung.

DAFTAR PUSTAKA

Edward S. 2006. Total Quality Management In Education (alih Bahasa Ahmad Ali Riyadi ). Jogjakarta : IRCiSoD

Engkoswara. 2010. Adminsitrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Hadis, A dan Nurhayati. 2010. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Jam’an, S. 2001. Penjaminan Sistem Jaminan Mutu dalam prakter supervise sekolah (Makalah). Bandung: tidak diterbitkan.

Manulang, M . 1977. Dasar-dasar manajemen. Medan : Monara

Nana, S.S, Ayi N.J., dan Ahman. 2006. Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah (Konsep, Prinsip dan Instrumen). Bandung: Penerbit Rafika Aditama.

Natawijaya, R. 2003. Kompetensi dan etika professional KOnselor masa depan. Bandung: Rosdakarya.

Peraturan Pemerintah No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Riduwan. 2008. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta.

Riyanto, T. 2002. Pembelajaran Sebagai Proses Bimbingan Pribadi. Jakarta: Grasindo.

Rochman, N. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.

Sa’ud, U.S. 2010. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta

 Sagala, S. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta.

 ________. 2005.Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.

 Saodih, S. 2011. Kualitas Proses Pembelajaran. Tersedia di  http://sambasalim.com/pendidikan/kualitas-proses-pembelajaran.html. [12 Januari 2012]

Suhardan, Dadang. 2010. Supervise Profesional: Layanan dalam meningkatkan Mutu pembelajran di Era Otonomi Daerah. Bandung: Alfabeta

Surakhmad, W. 1986. Metodologi Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars

Surya, M. 2003. Psikologi Pembelajran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Tim Dosen Administrasi Penidikan UPI. 2010. Manajemen Pendidikan. Bandung; Alfabeta

Wiranataputra, U. (2008). Teori dan pembelajaran. Jakarta: Universitas Trebuka.

Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Zamroni. 2007 . Meningkatkan Mutu Sekolah . Jakarta : PSAP Muhamadiyah

About these ads

2 Agustus 2012 - Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 187 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: