Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

E LEARNING: Inovasi Pembelajaran

E LEARNING:

Inovasi Pembelajaran Melalui Internet

1.      Konsep E learning

Udin Sa’ud (2009) menguraikan bahwa proses pemeblajaran tradisional-konvensional yang terjadi dalam ruangan kelas, pada era globalisasi dan desentralisasi ini pelan namun pasti akan kehilangan bentuk. Seiring kemajuan teknologi, maka peran teknologi informasi akan merambah berbagai bidang termasuk pendidikan.

Penggunaan internet dalam dunia pendidikan merupakan sebuah dimensi baru yang dapat memberikan keuntungan dan kegunaan (Riche Cyntia Johan;2008). E Learning merupakan istilah  dari pembelejaran dengan menggunakan internet.

E-learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. (http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning.html).

Istilah elektronik learning ( E-Learning ) diartikan pula upaya menghubungkan pembelajar (siswa) dengan sumber belajar (database, guru, perpustakaan) yang secara fisik berpisah atau ahkan berjauhan. Interaktivitas dlaam hubungan tersebut dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.

Penggunaan Internet untuk keperluan pendidikan yang semakin meluas terutama di negara-negara maju, merupakan fakta yang menunjukkan bahwa dengan media ini memang dimungkinkan diselenggarakannya proses belajar mengajar yang lebih efektif. Hal itu terjadi karena dengan sifat dan karakteristik Internet yang cukup khas, sehingga diharapkan bisa digunakan sebagai media pembelajaran sebagaimana media lain telah dipergunakan sebelumnya seperti radio, televisi, CD-ROM Interkatif dan lain-lain.

Sebagai media yang diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah, internet harus mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interaktif antara guru dengan siswa sebagaimana yang dipersyaratkan dalam suatu kegiatan pembelajaran. Kondisi yang harus mampu didukung oleh internet tersebut terutama berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan, yang kalau dijabarkan secara sederhana, bisa diartikan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk mengajak siswa mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memeperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut (Boettcher 1999).

Strategi pembelajaran yang meliputi pengajaran, diskusi, membaca, penugasan, presentasi dan evaluasi, secara umum keterlaksanaannya tergantung dari satu atau lebih dari tiga mode dasar dialog/komunikasi sebagai berikut (Boettcher 1999):

  • dialog/komunikasi antara guru dengan siswa
  • dialog/komunikasi antara siswa dengan sumber belajar
  • dialog/komunikasi di antara siswa

Apabila ketiga aspek tersebut bisa diselenggarakan dengan komposisi yang serasi, maka diharapkan akan terjadi proses pembelajaran yang optimal. Para pakar pendidikan menyatakan bahwa keberhasilan pencapaian tujuan dari pembelajaran sangat ditentukan oleh keseimbangan antara ketiga aspek tersebut (Pelikan, 1992).

Kemudian dinyatakan pula bahwa perancangan suatu pembelajaran dengan mengutamakan keseimbangan antara ketiga dialog/komuniaksi tersebut sangat penting pada lingkungan pembelajaran berbasis Web (Bottcher, 1995).
internet merupakan media yang bersifat multi-rupa, pada satu sisi Internet bisa digunakan-untuk berkomunikasi secara interpersonal misalnya dengan menggunakan e-mail dan chat sebagai sarana berkomunikasi antar pribadi (one-to-one communications), di sisi lain dengan e-mail-pun pengguna bisa melakukan komunikasi dengan lebih dari satu orang atau sekelompok pengguna yang lain (one-to-many communications). Bahkan sebagaimana telah disinggung di bagian depan, internet juga memiliki kemampuan memfasilitasi kegiatan diskusi dan kolaborasi oleh sekelompok orang. Di samping itu dengan kemampuannya untuk menyelenggarakan komunikasi tatap muka (teleconference), memungkinkan pengguna internet bisa berkomunikasi secara audiovisual sehingga dimungkinkan terselenggaranya komunikasi verbal maupun non-verbal secara real-time.

Dengan demikian terlihat bahwa secara nyata internet memang akan bisa digunakan dalam seting pembelajaran di sekolah, karena memiliki karakteristik yang khas yaitu (1) sebagai media interpersonal dan juga sebagai media massa yang memungkinkan terjadinya komunikasi one-to-one maupun one-to-many, (2) memiliki sifat interkatif, dan (3) memungkinkan terjadinya komunikasi secara sinkron (syncronous) maupun tertunda (asyncronous), sehingga memungkinkan terselenggaranya ketiga jenis dialog/komunikasi yang merupakan syarat terselengaranya suatu proses belajar mengajar.

Dari sejumlah studi yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa internet memang bisa dipergunakan sebagai media pembelajaran, seperti studi telah dilakukan oleh Center for Applied Special Technology (CAST) padatahun 1996, yang dilakukan terhadap sekitar 500 murid kelas lima dan enam sekolah dasar. Ke 500 murid tersebut dimasukkan dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang dalam kegiatan belajamya dilengkapi dengan akses ke Internet dan kelompok kontrol. Setelah dua bulan menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mendapat nilai yang lebih tinggi berdasarkan hasil tes akhir. Kemudian sebuah studi eksperimen mengenai penggunaan Internet untuk mendukung kegiatan belajar mengajar Bahasa Inggris yang dilakukan oleh Anne L. Rantie dan kawan-kawan di SMU 1 BPK Penabur Jakarta pada tahun 1999, menunjukkan bahwa murid yang terlibat dalam eksperimen tersebut memperlihatkan peningkatan kemampuan mereka secara signifikan dalam menulis dan membuat karangan dalam bahasa Inggris.

Dengan demikian terlihat bahwa sebagaimana media lain yang selama ini telah dipergunakan sebagai media pendidikan secara luas, Internet juga mempunyai peluang yang tak kalah besarnya dan bahkan mungkin karena karakteristiknya yang khas maka di suatu saat nanti Internet bisa menjadi media pembelajaran yang paling terkemuka dan paling dipergunakan secara luas.

E learning ini mempunyai beberapa kelebihan. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh antara lain (http://blog.unila.ac.id/satriamadangkara/2008/07/07/syaratkeunggulan-dan-kendala-e-learning/):

a)      Fleksibilitas. Dapat belajar kapan dan dimana saja, selama terhubung dengan internet.

b)     Personalisasi. Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan belajar mereka.

c)      Standarisasi. Dengan e-learning mengatasi adanya perbedaan yang berasal dari guru, seperti : cara mengajarnya, materi dan penguasaan materi yang berbeda, sehingga memberikan standar kualitas yang lebih konsisten.

d)     Efektivitas. Suatu studi oleh J.D Fletcher menunjukkan bahwa tingkat retensi dan aplikasi dari pelajaran melalui metode e-learning meningkat sebanyak 25 % dibandingkan pelatihan yang menggunakan cara tradisional

e)      Kecepatan. Kecepatan distribusi materi pelajaran akan meningkat, karena pelajaran tersebut dapat dengan cepat disampaikan melalui internet.

komponen yang membentuk e-Learning adalah:

  1. Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.
  2. Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas kita.
  3. Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar yang ada pada e-Learning system (Learning Management System). Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan oleh siswa kapanpun dan dimanapun. Depdiknas cukup aktif bergerak dengan membuat banyak kompetisi pembuatan multimedia pembelajaran. Pustekkom juga mengembangkan e-dukasi.net yang mem-free-kan multimedia pembelajaran untuk SMP, SMA dan SMK. Juga mari kita beri applaus ke pak Gatot (Biro PKLN) yang mulai memberikan insentif dan beasiswa untuk mahasiswa yang mengambil konsentrasi ke Game Technology yang arahnya untuk pendidikan. Ini langkah menarik untuk mempersiapkan perkembangan e-Learning dari sisi konten.

Model Pembelajaran E Learning (Udin Sa’ud 2009;201)

1. Web Course

Web Course, ialah penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran, di mana seluruh bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian sepenuhnya disampaikan melalui internet. Siswa dan guru sepenuhnya terpisah, namun hubungan atau komunikasi antara peserta didik dengan pengajar bisa dilakukan setiap saat. Komunikasi lebih banyak dilakukan secara ansynchronous daripada secara synchronous. Bentuk web course ini tidak memerlukan adanya kegiatan tatap muka baik untuk keperluan pembelajaran maupun evaluasi dan ujian, karena semua proses belajar mengajar sepenuhnya dilakukan melalui penggunaan fasilitas internet seperti e-mail, chat rooms, bulletin board dan online conference.

Di samping itu sistem ini biasanya juga dilengkapi dengan berbagai sumber belajar (digital), baik yang dikembangkan sendiri maupun dengan menggunakan berbagai sumber belajar dengan jalan membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sudah tersedia di internet, seperti database statistic berita dan informasi, e-book, perpustakaan elektronik dll.

Bentuk pembelajaran model ini biasanya dipergunakan untuk keperluan pendidikan ajarak jauh (distance education/learning). Aplikasi bentuk ini antara lain virtual campus/university, ataupun lembaga pelatihan yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang bisa diikuti secara jarak jauh dan setelah lulus ujian akan diberikan sertifikat.

2. Web Centric Course

Web Centric Course, di mana sebagian bahan belajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan disampaikan melalui internet, sedangkan ujian dan sebagian konsultasi, diskusi dan latihan dilakukan secara tatap muka. Walaupun dalam proses belajarnya sebagian dilakukan dengan tatap muka yang biasanya berupa tutorial, tetapi prosentase tatap muka tetap lebih kecil dibandingkan dengan prosentase proses belajar melalui internet.

Dengan bentuk ini maka pusat kegiatan belajar bergeser dari kegiatan kelas menjadi kegiatan melalui internet Sama dengan bentuk -web course,, siswa dan guru sepenuhnya terpisah tetapi pada waktu-waktu yang telah ditetapkan mereka bertatap muka, baik di sekolah ataupun di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Penerapan bentuk ini sebagaimana yang dilakukan pada perguruan tinggi-perguruan tinggi yang menyiapkan sistem belajar secara off campus.

3. Wen Enhanced Course

Web Enhanced Course, yaitu pemanfaatan internet untuk pendidikan, untuk menunjang peningkatan kualitas kegiatan belajar mengajar di kelas. Bentuk ini juga dikenal dengan nama Web lite course, karena kegiatan pembelajaran utama adalah tatap muka di kelas.

Peranan internet di sini adalah untuk menyediakan sumber-sumber yang sangat kaya dengan memberikan alamat-alamat atau membuat hubungan (link) ke berbagai sumber belajar yang sesuai yang bisa diakses secara online, untuk meningkatkan kuantitas dan memperluas kesempatan berkomunikasi antara pengajar dengan peserta didik secara timbal balik. Dialog atau komunikasi tersebut adalah untuk keperluan berdiskusi, berkonsultasi, maupun untuk bekerja secara kelompok. Komunikasi timbal balik bisa dilakukan antara siswa dengan siswa, siswa dengan teman di luar kelas/sekolah, siswa dengan kelompok, siswa dengan guru maupun guru dengan siswa atau dengan kelompok.

Berbeda dengan kedua bentuk sebelumnya, pada bentuk Web Enhanced Course ini prosentase pembelajaran melalui internet justru lebih sedikit dibandingkan dengan prosentase pembelajaran secara tatap muka, karena penggunaan internet adalah hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran secara tatap muka.

Bentuk ini bisa pula dikatakan sebagai langkah awal bagi institusi pendidikan yang akan menyelenggarakan pembelajaran berbasis internet, sebelum menyelenggarakan pembelajaran dengan internet secara lebih kompleks, seperti Web Centric Course ataupun Web course.

Permasalahan dan Solusi

A. Permasalahan

1. Sumber daya manusia

E Learning membutuhkan skill tertentu dari penggunanya. Guru sebagai pengelola diharuskn menguasai konsep, merencanakan dan melaksanakan desain E learning. Penyampaian materi dalam bentuk e-learning, tentu berbeda dengan penyampaian materi dalam training konvesional. Penyampain materi melalui e-learning perlu dikemas dalam bentuk yang learner-centric. Membuat desain E Learning yang menarik bagi peserta didik memerlukan skill yang memadai juga membutuhkan kreativitas.

Dalam pelaksanaannya juga diperlukan tangan-tangan yang cakap dan terbiasa dengan teknologi informasi. Terakhir, system evaluasi E Learning juga berbeda dengan evaluasi konvensional. Kecepatan hasil menjadi cirri utamanya.

SDM di sini meliputi pengajar dan siswa/mahasiswa. Masih banyak pengajar, terutama pengajar yang lama belum bisa menggunakan e-learning dalam pembelajaran karena mereka memang belum pernah mengenal apa itu e-learning dan karena sudah lamanya mereka menggunakan sistem klasik ini. Dari siswa/mahasiswanya pun masih banyak yang belum bisa menggunakan e-learning secara maksimal. Hal itu karena mereka masih menggunakan cara klasik yang diajarkan oleh guru mereka sebelumnya.

2.Sarana dan prasarana

e-learning pada akhirnya dapat menghemat biaya pelatihan, akan tetapi memerlukan investasi yang sangat besar pada permulaannya. Sarana prasarana yang harus tersedia akan memakan banyak biaya. Dari segi infrastruktur, bila yang kita butuhkan dari sistem e-Learning adalah sebatas aplikasi tutorial yang cukup kita install per PC, kita hanya perlu komputer yang stand alone. Sebaliknya bila sistem yang kita inginkan benar-benar punya akses kapan saja- dimana saja, maka kita butuh infrastruktur Internet, baik wireless maupun tidak. Karakteristik sistem yang terakhir biasa disebut web-based e-Learning.

Sarana prasarana yang harus disipakan anatara lain komputer, internet, software penunjang, hardware penunjang, tenaga ahli.

3. Kebijakan institusi

E learning juga sangat membutuhkan kebijakan instansi agar berjalan dengan bai, jika kebijakan (policy) tidak mendukung maka pelaksanaannya juga tidak akan berjalan. Peran instran si dalm hal ini adalah menyediakan berbagai sarana prasarana sebagai penunjang. selain itu juga mengeluarkan kebijakan mengenai pelaksanaan E learning di Institusi tersebut.

Masalah ynag muncul adalah Belum banyak instansi-instansi pendidikan di Indonesia yang berbasis e-learning, sehingga banyak juga yang belum bisa merasakan e-learning ini.

Factor pimpinan yang sangat berpengaruh dalam hal ini, jika pimpinan tersebut innovator maka kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya akan mengarah pada proses inovasi (dalam hal ini bentuuk inovasinya E learning). Namun jika pimpinan yang berpikiran kolot tidak mau berinovasi, maka E learning besar kemungkinan tidak akan terlaksana.

B. Solusi

Permasalahan (kendala) yang muncul dalam pelaksanaan E learning tentu harus ditanggapi dengan setius dan harus dipikirkan solusi-solusi yang tepat.

Solusi-solusi yang bisa ditawarkan antara lain:

1. Sumber Daya manusia

Menurut Udin Sa’ud (2009) dalam pelaksanaan E learning harus memahami prinsip-prinsip pembelajaran melalui internet. Pleh karena itu hendaknya dilakukan identifikasi dan kemudian dipersiapkan tenaga-tenaga tersebut, apakah bisa dicukupi dari dalam atukan harsu merekrut tenaga-tenaga baru (Sa’ud, udin 2009;205). Untuk guru-guru yang belum siap, maka diperlukan pelatihan-peatihan teknis untuk mempersiapkannya, sedagkan guur-guru yang relative siap harus diberdayakan untuk menjadi tutor bagi rekannay yang belum siap.

Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Yaitu (1) Kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. (2) Penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan (3) Penguasaan materi pembelajaran sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. (http://eksan.web.id/2008/10/membudayakan-model-pembelajaran-e-learning.html)

2. Sarana prasarana

Solusi yang ditawarkan adaah kerjasama dengan perusahaan telekominikasi. Berikut disajikan berita dari http://www.telkom.co.id/pojok-media/siaran-pers/telkom-jalin-kerjasama-dengan-tiga-departemen-untuk-mendukung-ict-pendidikan.html?lid=id:

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama serta Departemen Komunikasi dan Informatika, akan mendukung penyediaan infrastruktur Teknologi Komunikasi dan Informasi (ICT, Information and Communication Technology) untuk kepentingan pendidikan dalam program “Bahan Ajar On-Line (E-Learning)”. Kerja sama tersebut dituangkan dalam satu Naskah Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional diwakili oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Satrio SP Brojonegoro, Menteri Agama diwakili oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Yahya Umar, Menteri Komunikasi dan Informatika yang diwakili oleh Direktur Jenderal Aplikasi Telematika, Cahyana Ahmadjajadi dan Direktur Utama, PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Arwin Rasyid

Tahap awal, Telkom rencananya akan membantu pengadaan CPE (Customer Premises Equipment) dalam bentu router dan modem sebanyak 1000 (seribu) buah yang diperuntukkan bagi 1000 sekolah, yang terdiri dari 500 SMU dan 500 Madrasah Aliyah. Untuk infrastruktur jaringan, Telkom memberikan akses internet dan Astinet dengan bandwidth 256 KBPS bagi 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), bandwith 64 KBPS untuk 10 SMU dan 10 Madrasah Aliyah. Adapun akses TelkomNet Instant diberikan untuk 1000 (seribu) sekolah secara cuma-cuma  (free usage). Total nilai kompensasi yang diberikan oleh TELKOM  untuk bebas biaya selama 1 tahun pertama tersebut setara dengan Rp. 15 Milyar. Semua pihak yang terlibat, nantinya akan bersama-sama menyediakan materi dan aplikasi e-learning, melakukan riset bersama dalam menyusun regulasi atau kebijakan implementasi e-learning, menggelar infrastruktur jaringan akses internet dengan menggunakan layanan Astinet dan Dial Up, memfasilitasi pemanfaatan e-learning di masing-masing Sekolah/Madrasah serta melakukan sosialisasi, evaluasi dan monitoring implementasi Program e-learning.
Telkom sendiri selama ini telah menjalin kerjasama ICT dengan sejumlah institusi pendidikan melalui penyediaan layanan smart campus, antara lain dengan UGM, ITB, UI, dan universitas-universitas lainnya. Kerjasama ICT lainnya yang telah dilakukan TELKOM adalah dalam program program Internet Goes to School (IG2S). IG2S merupakan program kepedulian sosial Telkom yang telah lama digelar dan melibatkan tak kurang dari 70.000 sekolah di seluruh Indonesia sejak tahun 1999. Telkom aktif menjalankan program IG2S di berbagai daerah untuk mengatasi kesenjangan terhadap akses informasi melalui Internet (atau biasa diistilahkan digital divide) di kalangan masyarakat, baik masyarakat di wilayah perkotaan maupun di daerah-daerah pelosok.

3. Kebijakan Instansi

Menyiapkan E learning

(http://blog.unila.ac.id/satriamadangkara/2008/06/05/about-e-learning/)

Pengalaman menunjukan dalam menyiapkan program e-learning tidaklah sesulit dalam bayangan kita, asalkan kita memiliki kemauan dan komitmen yang kuat untuk menuju ke arah itu. Tanpa komitmen dan dukungan secara teknis maka program e-learning di sekolah tidak mungkin akan terealiasi. Ada tip tentang kunci sukses terealisasinya program e-learning, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Bates, 2005) dalam journal of e-learning volume 5 tahun 2005, yakni adanya perencanaan dan leadership yang terarah dengan mempertimbangkan efektifitas dalam pembiayaan, integritas sistem teknologi serta kemampuan guru dalam mengadapsi perubahan model pembelajaran yang baru yang sudah barang tentu didukung kemampuan mencari bahan pembelajaran melalui internet serta mempersiapkan budaya belajar bagi siswa. Ada empat langkah dalam manajemen pengelolaan program e-learning yakni pertama menentukan strategi yang jelas tentang target audience, pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya infrastruktur, budget dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang tunai. Kedua menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan Commercial or OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang dikembangkan di sekolah. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan bersifat spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan serta menyiapkan short response time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu dipikirkan masak-masak dalam konteks investasi jangka panjang. Membudayakan belajar berbasis TIK Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi. Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat. Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik. Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media. Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera mungkin untuk diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA

 

Sa’ud, udin. 2009. Inovasi pendidikan. Bnadung: ALFABETA

Johan, riche cyntia. 2008. Pengaruh Pesan Visua Web terhadap pembentukan Motivasi belajar secara Visrtual. Dalam Mimbar Pendidikan UPI Vol. XXXII No.3 Tahun 2008.

http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning.html

http://blog.unila.ac.id/satriamadangkara/2008/07/07/syaratkeunggulan-dan-kendala-e-learning/

http://lemdikpol.com/elibrary/BeritaDetail.aspx?id=5

http://eksan.web.id/2008/10/membudayakan-model-pembelajaran-e-learning.html)

 http://blog.unila.ac.id/satriamadangkara/2008/06/05/about-e-learning/)

 

About these ads

11 Juni 2011 - Posted by | Pasca UNIGAL (Manajemen Pendidikan) |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 180 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: