Adejuve

Cilondok Pasirsalam Mangunreja Tasikmalaya

Pembelajaran Undak usuk Basa

PEMBELAJARAN UNDAK USUK BASA SUNDA

 

Bahasa Sunda sebagai bahasa ibu sebagian besar masyarakat Jawa Barat mengenal tingkatan-tingkatan. Bahasa yang digunakan untuk orang yang lebih tua akan berbeda dengan bahsa yang digunakan untuk sesama. Tingkatan-tingkatan ini lazim disebut Undak Usuk Basa. Memang undak usuk basa ini menjadi polemik tersendiri, karena dianggap menjadi salasatu factor penyebab mengapa bahasa sunda tidak digunakan lagi oleh beberapa orang Sunda. Tapi jika kita telaah lebih seksama, justru undak usuk basa ini menjadi salasatu indikator dari ciri orang sunda yang mengutamakan tatakrama dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Di sekolah, bahasa sunda menjadi muatan lokal wajib yang harus diajarkan mulai dari TK, SD, SMP, hinga SMA. Hal ini sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah, yang menetapkan bahasa daerah slahsatu aspek bahsa yang harus disampaikan pada siswa adalah undak usuk basa.

Di tengah makin lunturnya nilai-nilai moral kesopanan remaja, dalam hal ini siswa. Undak usuk basa bisa dijadikan salah satu alternative pemecahan masalah kesopanan remaja.  Dalam undka usuk basa terdapat setidaknya  beberapa hal yaitu basa, pasemon, rengkuh jeung peta, serta lentong (adiwijaya;1951).

Pertama basa (bahasa). Bahasa yang digunakan unruk yang lebih tua akan berbeda dengan untuk sesama. Terdapat ragam horamat (lemes) dan ragam loma. Kata “balik” lazim digunakan untuk sesama, sedangkan kata “mulih” dan “wangsul digunakan untuk yang lebih tua.  Kedua, pasemon (ekspresi). Ekspresi yang digunakan jika menggunakan basa ragam hormat (lemes) akan berbeda jika menggunakan ragam loma. Ekspresi yang ceria (marahmay) ditambah dengan senyuman menjadi salasatu ciri ragam hormat. Ketiga, rengkuh. Posisi badan akan sedikit membungkuk jika yang digunakan adalah ragam hormat. Tentu saja tidak berlebihan. Keempat lentong (intonansi). Intonnasi ragam hormat akan lebih lambat (anca). Jika cirri-ciri ragam hormat ini sudah tertanam didalam diri siswa dan sudah terbiasa dilakukan, ini akan sangat membantu memperbaiki moralitas, dalam ini kesopanan mereka.

Tapi terkadang guru terkendala dengan cata (metode,teknik,strategi.model) untuk menymapaikan undak usuk basa ini pada siswa. Salasatu metode yang bisa digunakan adalah dengan metode demonstrasi.. Siswa disuguhi naskah (dialog) yang memuat undak usuk basa. Lalu siswa memperakan naskah tersebut di depan kelas. Setelah selesai siswa diberi penjelasan mengenai dialog yang mereka peragakan dihubungkan dengan undak usuk basa. Dalam pengajaran drama juga undak usuk basa bisa diterapkan.

Factor pembiasaan juga harus dilakukan. Siswa harus dibiasakan berbicara dengan undka usuk yang baik setiap bertemu dengan guru. Untuk itu tentu saja siswa harus diberikan beberapa kata ragam hormat yang paling sering digunakan, seperti mulih, wangsul, dongkap, sumping, ngabantun, nyandak, pun bapa, pun biang, dan sebagainya.

About these ads

1 Juni 2011 - Posted by | Alakadarna |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 187 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: